Rabu 26 Oct 2022 10:36 WIB

Lotte Group Perluas Bisnis Farmasi di Korea, Siapkan Dana Rp 15,6 Triliun

Lotte Group akan membangun fasilitas produksi farmasi yang besarnya enam kali lipat.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Lotte Mart. Lotte Group, konglomerat Korea Selatan, pemasok barang ritel hingga bisnis hotel bakal menggandakan produksi obat di AS dan mengincar peluang di Eropa serta dalam negeri setelah peluncuran cabang farmasinya.
Foto: Antara
Lotte Mart. Lotte Group, konglomerat Korea Selatan, pemasok barang ritel hingga bisnis hotel bakal menggandakan produksi obat di AS dan mengincar peluang di Eropa serta dalam negeri setelah peluncuran cabang farmasinya.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Lotte Group, konglomerat Korea Selatan, pemasok barang ritel hingga bisnis hotel bakal menggandakan produksi obat di AS dan mengincar peluang di Eropa serta dalam negeri setelah peluncuran cabang farmasinya.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (26/10/2022), ekspansi Lotte Biologics itu direncanakan akan dibangun bagian utara New York, tepatnya di fasilitas pabrik Bristol-Myers Squibb Co. yang telah dibeli dan akan dimulai tahun ini. Total investasi yang dikeluarkan sebesar 160 juta dolar AS atau setara Rp 2,496 triliun (kurs Rp 15.600 per dolar AS).

Baca Juga

Perusahaan juga bermaksud untuk menghabiskan 1 miliar dolar AS atau setara Rp 15,6 triliun di Korea Selatan untuk membangun fasilitas produksi yang lebih besar lima hingga enam kali dari fasilitas yang sudah dimiliki saat ini, sambil mencari peluang akuisisi di Eropa dan Boston, kata Kepala Eksekutif Lotte Biologics Richard Lee dalam sebuah wawancara dikutip dari Bloomberg.

Arah baru datang setelah sejumlah bisnis keluarga terkemuka Korea Selatan -- yang disebut chaebol yang mencakup Samsung Biologics Co. dan SK Bioscience Co. -- beralih ke sektor manufaktur kontrak yang sangat menguntungkan dari biofarma global senilai 1,3 triliun dolar AS.

Lee berencana untuk fokus pada obat-obatan infus untuk penyakit seperti kanker yang sangat diminati, sekaligus menghindari fluktuasi produksi yang didorong oleh pandemi Covid-19 dalam beberapa tahun terakhir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement