Kamis 29 Sep 2022 17:08 WIB

Saham Teknologi Seperti BUKA dan GOTO Rontok, IHSG Gagal Bertahan di Zona Hijau

Sektor teknologi mengalami rontok paling dalam sebesar 1,95 persen

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona negatif pada perdagangan Kamis (29/9). Meski sempat menguat di awal perdagangan, IHSG ditutup terkoreksi sebesar 0,58 persen ke level 7.036,19. Sektor teknologi mengalami rontok paling dalam sebesar 1,95 persen
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona negatif pada perdagangan Kamis (29/9). Meski sempat menguat di awal perdagangan, IHSG ditutup terkoreksi sebesar 0,58 persen ke level 7.036,19. Sektor teknologi mengalami rontok paling dalam sebesar 1,95 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona negatif pada perdagangan Kamis (29/9). Meski sempat menguat di awal perdagangan, IHSG ditutup terkoreksi sebesar 0,58 persen ke level 7.036,19.

Sektor teknologi mengalami penurunan paling dalam sebesar 1,95 persen. Saham-saham yang memimpin pelemahan seperti GOTO terpangkas lebih dari 3 persen, BUKA jatuh lebih dari 2 persen.

"HSG bergerak variatif dimana pasar masih tertekanan kondisi global sehubungan tumbuhnya inflasi dan suku bunga yang tinggi," kata Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, Kamis (29/9).

Meski demikian, pemerintah masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada kuartal III 2022. Presiden Joko Widodo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal tiga ini mencapai 5,4 hingga 6 persen, naik dibandingkan kuartal kedua yakni 5,44 persen.

 

"Tentunya ini mampu mendorong kepercayaan masyarakat akan kondisi ekonomi dalam negeri," kata Pilarmas Investindo. 

Sementara Bank Sentral Cina meningkatkan intervensi verbal untuk menahan penurunan tajam mata uang yuan. Bank sentral Cina telah menyiapkan fasilitas pinjaman ulang senilai lebih dari 200 miliar yuan untuk membantu produsen meningkatkan peralatan sebagai bagian dari dorongan untuk memacu permintaan. 

"Kebijakan bank sentral tersebut tentunya akan memberikan amunisi kepercayaan pelaku pasar keuangan di tengah ancaman resesi global," kata Pilarmas Investindo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement