Senin 05 Sep 2022 17:06 WIB

Akui Ada Kenaikan, Kemendag Waspadai Tren Harga Beras

Kemendag pastikan stabilisasi harga beras dilakukan melalui Perum Bulog

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Pekerja mengangkut beras hasil serapan dari petani di Gudang Bulog Subdivre Serang, Banten. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui adanya kenaikan harga beras secara nasional. Pemerintah memastikan stabilisasi harga beras akan dilakukan melalui Perum Bulog yang mengelola cadangan beras pemerintah.
Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman
Pekerja mengangkut beras hasil serapan dari petani di Gudang Bulog Subdivre Serang, Banten. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui adanya kenaikan harga beras secara nasional. Pemerintah memastikan stabilisasi harga beras akan dilakukan melalui Perum Bulog yang mengelola cadangan beras pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengakui adanya kenaikan harga beras secara nasional. Pemerintah memastikan stabilisasi harga beras akan dilakukan melalui Perum Bulog yang mengelola cadangan beras pemerintah.

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Syailendra, mengatakan, kenaikan harga beras terutama terjadi di luar wilayah Jawa dan Sumatra. Namun, pemerintah telah meminta Bulog untuk mengisi pasokan beras di wilayah-wilayah yang mulai mengalami tren peningkatan harga.  

"Di luar Jawa dan Sumatra yang menjadi masalah, kita akan coba cek. Tapi kita sudah meminta Bulog untuk melakukan operasi pasar dengan beras medium," kata Syailendra kepada Republika.co.id, Senin (5/9/2022).

Ia menilai, banyak faktor yang membuat kenaikan harga beras saat ini. Termasuk soal kenaikan harga pupuk yang menyebabkan peningkatan biaya produksi. Selain itu, juga tren permintaan masyarakat yang mulai pulih setelah merosot selama pandemi Covid-19.

Syailendra mengatakan, lantaran adanya peningkatan biaya produksi, pemerintah tengah menyusun harga acuan pembelian (HAP) gabah kering panen di tingkat petani. Aturan mengenai HAP akan diterbitkan oleh Badan Pangan Nasional yang masih dalam proses kajian.

"Memang harus ada koreksi (penyesuaian harga gabah) dulu, sedang disusun," katanya.

Meski tren harga beras mulai meningkat Syailendra menilai pasokan dalam negeri masih mencukupi. Produksi beras sejuah ini dinilai masih cukup optimal sehingga tidak diperlukan impor. Presiden Joko Widodo juga telah menginstrusikan seluruh menteri terkait untuk memastikan kecukupan produksi maupun ketersediaan pangan pokok nasional.

"Badan Pangan juga sudah diminta untuk menyusun neraca komoditas pangan, berapa produksi, konsumsi, dan juga berapa yang harus disuplai dari impor," kata dia.

Harga beras dalam negeri mulai mengalami kenaikan sejak Agustus 2022 setelah stabil selama dua tahun terakhir. Pemerintah diminta menggelar operasi pasar secara masif untuk mencegah lonjakan harga beras.

Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, Zulkifli Rasyid, menuturkan, kenaikan harga terutama terjadi pada beras medium. Rata-rata harga beras medium di PIBC sudah lebih dari Rp 9.000 per kg dari sebelum kisaran Rp 8.500 per kg. Padahal, harga eceran beras tertinggi (HET) beras khusus wilayah Jakarta dipatok pemerintah sebesar Rp 9.450 per kg.

Mengutip Panel Harga Badan Pangan Nasional, Senin (5/9/2022), harga beras medium di tingkat pedagang eceran pun mencapai Rp 10.870 per kg. Sementaa, HET Beras sesuai aturan pemerintah sebesar Rp 9.450 per kg - Rp 10.250 per kg tergantung wilayah. Tren harga beras medium bahkan telah mengalami kenaikan signifikan sejak Mei 2022.

Kenaikan harga beras itu mulai dirasakan pedagang sejak Agustus akibat berkurangnya pasokan yang masuk ke pasar induk. Sementara tingkat permintaan cukup stabil. Adpaun PIBC saat ini menjadi barometer situasi perberasan secara nasional.

"Satu-satunya jalan supaya harga beras ini jangan naik harganya secara signifikan, kita harus melakukan operasi pasar," kata Zulkifli kepada Republika.co.id, Senin (5/9/2022).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement