Selasa 30 Aug 2022 16:04 WIB

Modal dari PMN dan Rights Issue Berpotensi Dongkrak Kinerja ADHI

Dukungan modal berpotensi dorong laba Adhi Karya untuk selesaikan proyek strategis.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Proyek BUMN konstruksi Adhi Karya, jembatan Noefefan, di Kota Oecusse, Timor Leste. Tambahan ekuitas yang akan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 1,97 triliun dan rights issue senilai Rp 1,89 triliun disebut akan berdampak positif untuk kinerja PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).
Foto: ANTARA/Kornelis Kaha
Proyek BUMN konstruksi Adhi Karya, jembatan Noefefan, di Kota Oecusse, Timor Leste. Tambahan ekuitas yang akan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 1,97 triliun dan rights issue senilai Rp 1,89 triliun disebut akan berdampak positif untuk kinerja PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tambahan ekuitas yang akan berasal dari Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 1,97 triliun dan rights issue senilai Rp 1,89 triliun disebut akan berdampak positif untuk kinerja PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI). 

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragin mengatakan dukungan modal dari pemerintah dan publik tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan karena penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN).

ADHI akan menggunakan dana PMN untuk setoran modal pada proyek-proyek PSN yaitu jalan tol Yogyakarta – Solo, jalan tol Yogyakarta – Bawen dan proyek SPAM Karian. Sejumlah proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2024. Proyek tersebut memiliki total nilai kontrak lebih dari Rp 12 triliun dengan pendapatan yang telah dicatat hingga semester I 2022 sekitar Rp 1,5 triliun.

"Sehingga, kami mengestimasi terjadinya peningkatan pendapatan hingga tahun 2024," kata Andreas dalam risetnya dikutip Selasa (30/8).

Sementara dana rights issue akam digunakan untuk proyek-proyek investasi yaitu JORR Elevated, proyek pengelolaan limbah dan proyek preservasi jalan. Menurut Andreas proyek investasi tersebut akan mendorong perolehan kontrak baru dan menghasilkan recurring income.

Recurring income nantinya diharapkan dapat digunakan untuk membiayai kegitan operasional. Adapun proyek investasi yang saat ini berjalan antara lain proyek preservasi Jalintim dan waste management di Medan.

Selain mendongkrak pendapatan, Andreas mengatakan, dana dari PMN dan rights issue berpotensi meningkatkan pertumbuhan kontrak baru karena struktur modal yang lebih baik. Pertumbuhan kontrak baru di 2022 sampai 2024 akan didorong oleh proyek Ibu Kota Negara (IKN) dan anggaran infrastruktur yang lebih tinggi.

Pemerintah menetapkan anggaran infrastruktur pada APBN 2023 mencapai Rp 392 triliun, naik 7,8 persen dibandingkan dengan proyeksi realisasi 2022. Tahap awal proyek IKN akan difokuskan untuk infrastruktur dasar dengan estimasi anggaran sekitar Rp 30 triliun.

ADHI telah mencatatkan pertumbuhan kontrak baru sebesar 82 persen YoY menjadi Rp 12,2 triliun di semester I 2022. Andreas melihat ADHI berpotensi melewati proyeksi Samuel Sekuritas seiring dengan potensi tambahan kontrak baru yang berasal dari proyek luar negeri, proyek di IKN dan proyek JORR Elevated. 

"Kami pun memproyeksikan pertumbuhan kontrak baru dapat mencapai 20 persen YoY ditambah 15 persen YoY di 2023/2024 yang berasal dari proyek rights issue dan winning rate yang lebih tinggi karena membaiknya struktur modal," kata Andreas. 

Andreas menilai ADHI saat ini diperdagangkan pada valuasi yang menarik. Namun, kinerja ADHI juga memiliki risiko penurunan jika biaya bahan baku meningkat sehingga dapat menekan margin dan naiknya tingkat suku bunga acuan. Manajemen telah mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga dengan menerbitkan obligasi di kuartal II 2022 sehingga 47 persen dari utangnya adalah fixed rate.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement