Rabu 24 Aug 2022 19:02 WIB

Kementan tak Lagi Kejar Swasembada Daging Sapi, Tapi Protein

Indonesia saat ini sudah mencapai swasembada protein hewani.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Daging sapi (ilustrasi). Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, pemerintah tidak lagi mengejar swasembada produksi sapi. Namun, Kementan akan lebih fokus pada swasembada protein hewani yang jauh lebih penting untuk menjamin kebutuhan gizi masyarakat.
Daging sapi (ilustrasi). Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, pemerintah tidak lagi mengejar swasembada produksi sapi. Namun, Kementan akan lebih fokus pada swasembada protein hewani yang jauh lebih penting untuk menjamin kebutuhan gizi masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, pemerintah tidak lagi mengejar swasembada produksi sapi. Namun, Kementan akan lebih fokus pada swasembada protein hewani yang jauh lebih penting untuk menjamin kebutuhan gizi masyarakat.

"Kementan tidak lagi menganut swasembada sapi, tapi swasembada protein hewani," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Makmun dalam Diskusi Publik Ombudsman, Rabu (24/8/2022).

Baca Juga

Makmun menuturkan, Indonesia saat ini sudah mencapai swasembada protein hewani. Capaian itu terutama disumbang oleh komoditas daging dan telur ayam ras yang saat ini telah mencatatkan surplus.

Hanya saja, khusus produksi sapi lokal memang masih mengalami defisit sehingga membutuhkan tambahan impor. Tahun ini, Kementan memproyeksikan total kebutuhan daging sapi mencapai 711.885 ton. 

Adapun, produksi lokal diperkirakan baru mencapai 437.317 ton serta sisa produksi 2021 hanya 62.485 ton sehingga masih terdapat defisit. Untuk menutup defisit itu, Kementan mengalokasikan impor sapi bakalan sebesar 316.350 ekor atau setara 60.641 ton. 

Selain itu juga dilakukan impor daging sapi/kerbau sebanyak 210.328 ton. Jika dikalkulasikan, total impor daging sapi 2022 sebesar 270.969 ton yang dinilai cukup menutup defisit.

"Oleh karena itu, satu hal yang ingin kita geser, bagaimana preferensi konsumn bisa digeser, karena yang dibutuhkan tubuh itu protein," kata dia.

Ia mengakui, upaya tersebut akan menemui tantangan karena masing-masing konsumen punya preferensi berbeda. Namun, Makmun menegaskan, kewajiban utama pemerintah adalah memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

"Kalau dilihat data preferensi dan pergeseran konsumsi, ayam lebih naik sementara sapi tidak berkembang besar," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement