Kamis 21 Jul 2022 18:29 WIB

BI Dinilai Punya Ruang Naikkan Suku Bunga 0,5 Hingga 0,75 Persen Tahun Ini

Pengamat sebut inflasi di atas 3 persen dapat jadi pertimbangan naikkan suku bunga.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI). Bank Indonesia dinilai punya ruang menaikkan suku bunga acuan meski inflasi inti masih dalam jangkauan perkiraan 2 hingga 4 persen.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI). Bank Indonesia dinilai punya ruang menaikkan suku bunga acuan meski inflasi inti masih dalam jangkauan perkiraan 2 hingga 4 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia dinilai punya ruang menaikkan suku bunga acuan meski inflasi inti masih dalam jangkauan perkiraan 2 hingga 4 persen. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan, inflasi inti yang merupakan proxy dari inflasi fundamental belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

"Meskipun perkiraan inflasi inti masih berada di rentang inflasi BI, namun BI tetap memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuannya sekitar 50 hingga 75 bps pada tahun ini," katanya pada Republika, Kamis (21/7).

Baca Juga

Hal ini sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk menjangkar ekspektasi inflasi. Terutama mempertimbangkan potensi pemulihan ekonomi domestik yang terus berlanjut.

Menurutnya, memang tidak ada threshold yang baku untuk menentukan level inflasi inti yang perlu dipertimbangkan oleh BI. Namun inflasi inti sekitar atau melampaui tiga persen dapat menjadi pertimbangan BI untuk mulai normalisasi kebijakan moneternya.

 

Josua menyebut kebijakan Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga acuannya pada RDG bulan Juli ini sesuai perkiraan. Meskipun inflasi Juni tercatat melampaui target inflasi 2-4 persen, inflasi inti yang merupakan proxy dari inflasi fundamental belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Tren kenaikan inflasi domestik sangat dipengaruhi oleh faktor supply yang secara umum berpotensi mengalami normalisasi kedepannya. Selain itu, BI juga implementasi kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Lebih lanjut, surplus neraca dagang yang terus berlanjut memberikan indikasi bahwa neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2022 diperkirakan tercatat surplus. Pada kuartal II 2022, surplus neraca dagang tercatat 15,6 miliar dolar AS, meningkat dari kuartal sebelumnya yang tercatat surplus 9,3 miliar dolar AS.

Surplus neraca transaksi berjalan Indonesia sejak kuartal III 2021 yang ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas mengindikasikan bahwa kondisi keseimbangan eksternal tetap solid. Ini tetap akan mendukung stabilitas rupiah.

Meskipun demikian, dalam lelang Operasi Pasar Terbuka pada bulan Juli ini, Reserse Repo dengan tenor dua minggu, satu bulan, tiga bulan tercatat naik sekitar 25-35bps. Dibanding akhir bulan Juni nilainya naik ke level 3,8 persen; 3,85 persen; 3,9 persen. Hal tersebut secara umum juga memberi indikasi bahwa BI juga memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuannya.

"Mempertimbangkan output gap Indonesia yang masih negatif, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya ketika inflasi fundamental cenderung meningkat signifikan, dalam rangka menjangkar ekspektasi inflasi hingga akhir tahun," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement