Selasa 14 Jun 2022 12:23 WIB

Indonesia Incar Pasar CPO dan Minyak Goreng di Pakistan

Pada 2021, total perdagangan bilateral RI-Pakistan mencapai 3,9 miliar dolar AS.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Minyak kelapa sawit (CPO).
Minyak kelapa sawit (CPO).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dan Pakistan terus berupaya meningkatkan kerja sama ekonomi yang komperhensif, sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi kedua negara. Salah satu langkah strategis yang akan dijalankan Indonesia yaitu mengakselerasi perluasan pasar ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan minyak goreng sawit ke Pakistan.

“Pemerintah telah memutuskan membuka ekspor minyak goreng kembali, setelah melihat kondisi pasokan yang terpenuhi di pasar domestik dan penurunan harga minyak goreng curah saat ini. Oleh karenanya, Pakistan bisa menjadi pasar potensial,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi, Selasa (14/6/2022).

Baca Juga

Menperin menjelaskan, pemerintah sedang menjalankan program percepatan distribusi CPO, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), dan Used Cooking Oil (UCO) melalui ekspor sejak 7 Juni sampai 31 Juli 2022. Hal itu, kata dia, guna optimalisasi dan stabilisasi produksi dan rantai perdagangan CPO, RBDPO, dan UCO.

Program tersebut berlaku bagi seluruh eksportir, dengan alokasi ekspor ditetapkan sebesar 1 juta ton, dan setiap eksportir yang mengikuti program diberikan alokasi paling sedikit 10 ton kelipatannya. “Saya yakin terbitnya regulasi terkait ini dapat mempercepat impor CPO dan turunannya ke Pakistan,” ujar Agus.

 

Dia berharap, pertemuan bilateral ini juga dapat memperluas hubungan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi, yaitu dengan kelanjutan perundingan Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (IP-TIGA). Hal ini dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi kedua negara pasca-pandemi Covid- 19.

“Indonesia punya potensi besar, dengan jumlah UMKM sebanyak 65 juta unit atau 99 persen mendominasi dari total unit usaha yang ada di Indonesia. UMKM memberikan kontribusi hingga 60 persen terhadap PDB nasional,” jelas dia.

Selain itu, UMKM di Indonesia menyerap tenaga kerja 119,6 juta lebih orang atau menyumbang sekitar 96,92 persen dari total tenaga kerja di Indonesia. Menperin optimistis, peningkatkan kerja sama di sektor industri dengan Pakistan akan mendongkrak kinerja ekspor nasional.

Total perdagangan kedua negara mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,65 persen selama 2017-2021. Lalu mencatat pertumbuhan positif sebesar 41,77 persen selama 2021-2022.

Pada 2021, total perdagangan bilateral mencapai 3,9 miliar dolar AS dengan total ekspor 3,8 miliar dolar AS dan impor dari Pakistan sebesar 185 juta dolar AS, yang keduanya didominasi oleh sektor nonmigas. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus mengalami nilai perdagangan yang positif. Pada 2021, nilai perdagangan tercatat sebesar 3,6 miliar dolar AS.

Sementara, penanaman modal dari investor Pakistan di Indonesia dari tahun 2018 hingga 2022 telah menggelontorkan total dana sebesar 5,45 juta dolar AS bagi 155 proyek. Sektor-sektor yang merealisasikan investasinya tersebut, antara lain industri makanan, tekstil, kayu, serta kimia dan farmasi.

“Minyak sawit dan minyak sawit mentah adalah produk dengan potensi ekspor terbesar dari Indonesia ke Pakistan,” ungkap Agus. Komoditas lainnya yang juga menjadi andalan ekspor Indonesia ke Pakistan, di antaranya serat stapel rayon viscose, mobil dan kendaraan bermotor lainnya, gearbox dan bagiannya, serta kertas uncoated dan kertas karton.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement