Jumat 10 Jun 2022 08:00 WIB

Yellen: Ekonomi AS tak Mungkin Resesi, Tetapi Pertumbuhan Melambat

Presiden Joe Biden menandatangani American Rescue Plan senilai 1,9 triliun dolar AS.

Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan pada Kamis (9/6/2022) bahwa dia tidak memperkirakan ekonomi AS akan mengarah ke resesi.
Foto: AP Photo/Jacquelyn Martin
Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan pada Kamis (9/6/2022) bahwa dia tidak memperkirakan ekonomi AS akan mengarah ke resesi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan pada Kamis (9/6/2022), dia tidak memperkirakan ekonomi AS mengarah ke resesi. Namun, menurutnya, pertumbuhannya akan benar-benar melambat dan harga bensin tidak mungkin turun dalam waktu dekat.

"Saya tidak berpikir kita (akan) mengalami resesi. Belanja konsumen sangat kuat. Belanja investasi solid," katanya dalam acara New York Times Dealbook.

Baca Juga

"Saya tahu orang-orang sangat kesal dan memang benar begitu tentang inflasi, tetapi tidak ada yang menunjukkan bahwa ... resesi sedang terjadi."

Yellen yang pekan lalu mengakui salah memprediksi inflasi akan bersifat sementara, mengatakan dalam acara tersebut, dia tidak akan mengubah keputusan kebijakan AS jika bisa kembali ke masa lalu."Saya tidak akan melakukannya secara berbeda," kata Yellen. Ia menambahkan, American Rescue Plan senilai 1,9 triliun dolar AS yang ditandatangani Presiden Joe Biden diperlukan untuk mencegah satu generasi orang Amerika menderita tingkat pengangguran yang tinggi."Hal-hal yang tidak terduga selalu bisa terjadi. Dunia sangat tidak pasti," katanya.

 

Memerangi inflasi adalah prioritas utama Presiden Joe Biden, kata Yellen, seraya menambahkan bahwa dia tidak memperkirakan harga bensin, yang baru saja mencapai 5 dolar AS per galon, akan turun dalam waktu dekat.

Dia mengatakan rumah tangga Amerika jelas khawatir tentang melonjaknya harga bensin, yang memainkan peran kunci dalam membentuk ekspektasi konsumen, tetapi 'menakjubkan' betapa pesimisnya orang Amerika tentang ekonomi mengingat fakta bahwa Amerika Serikat sekarang memiliki pasar tenaga kerja terkuat sejak Dunia Perang Dua.

"Biden telah melakukan "apa yang bisa dia lakukan" untuk mengatasi harga bensin yang tinggi dengan mengarahkan penarikan bersejarah dari Cadangan Minyak Strategis," kata Yellen. 

Dia menambahkan, pejabat AS juga akan terus memperketat sanksi yang bertujuan menghukum Rusia dan menghentikan perang di Ukraina.Ketika Federal Reserve (Fed) memperketat kebijakan moneter untuk menahan permintaan dan menurunkan inflasi, Yellen mengatakan dia melihat jalan menuju soft landing yang akan menghindari resesi.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement