Kamis 12 May 2022 11:53 WIB

Menkeu Ingatkan Dua yang Perlu Diwaspadai dalam PEN

Menkeu ingatkan untuk waspada kenaikan kasus Covid-19 dan inflasi global dalam PEN

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan dua hal yang harus diwaspadai dalam proses pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang belum sepenuhnya selesai. Pertama, kasus Covid-19 di Indonesia harus terus dijaga agar tetap terkendali. Kedua lanjut Sri Mulyani, hal yang perlu diwaspadai dalam PEN adalah kenaikan inflasi yang terjadi di seluruh dunia
Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan dua hal yang harus diwaspadai dalam proses pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang belum sepenuhnya selesai. Pertama, kasus Covid-19 di Indonesia harus terus dijaga agar tetap terkendali. Kedua lanjut Sri Mulyani, hal yang perlu diwaspadai dalam PEN adalah kenaikan inflasi yang terjadi di seluruh dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan dua hal yang harus diwaspadai dalam proses pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang belum sepenuhnya selesai. Pertama, kasus Covid-19 di Indonesia harus terus dijaga agar tetap terkendali.

"Yang harus kita waspadai ya Covid-19nya harus tetap dijaga rendah," kata Menkeu saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (11/5) kemarin.

Sebab, dengan kasus Covid-19 yang terkendali, maka masyarakat bisa kembali normal melakukan kegiatan. Hal ini akan berdampak pada geliat ekonomi masyarakat.

"Kalau jumlah covidnya menurun, kita bisa lihat masyarakat mulai melakukan kegiatan, dan itu artinya seperti kemarin 84 juta masyarakat mudik pasti menimbulkan kegiatan ekonomi," katanya.

Kedua lanjut Sri Mulyani, hal yang perlu diwaspadai dalam PEN adalah kenaikan inflasi yang terjadi di seluruh dunia."Yang kedua, ini ada tantangan baru, inflasi seluruh dunia naik," katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan inflasi dunia ini dipicu melonjaknya jumlah permintaaan terhadap komoditas tetapi tidak diikuti dengan supply. Hal itu diperparah dengan terjadinya perang di Ukraina, sehingga meningkatkan harga-harga menjadi lebih tinggi.

Sri Mulyani melanjutkan, kondisi ini pun juga berimbas ke seluruh negara termasuk Indonesia."Ada yang 8 persen bahkan kalau Anda bicara tentang Turki, Brazil, itu tinggi banget. Indonesia masih 3,5 persen kemarin disampaikan oleh BPS. Namun kita waspada beberapa barang terutama barang makanan tadi yang mengenai stunting harus kita waspadai," katanya.

Selain itu, kata dia,  tingginya inflasi juga pasti akan menyebabkan respon kebijakan moneter yaitu kenaikan suku bunga. Hal ini juga akan mengerem pemulihan ekonomi di tengah upaya pemerintah memulihkan kondisi pascapandemi.

"Jadi poin saya tadi, PR kita masih ada yg harus kita selesaikan dan muncul tantangan baru," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement