Rabu 02 Feb 2022 16:28 WIB

NTP Awal Tahun Meningkat, Ini Harapan Kementan

Kenaikan NTP menunjukkan petani bisa menikmati keuntungan hasil produksinya.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Fuji Pratiwi
Petani memanen padi organik di lahan persawahan Kampung Tematik Mulyaharja, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/1/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Januari 2022 meningkat signifikan.
Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
Petani memanen padi organik di lahan persawahan Kampung Tematik Mulyaharja, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/1/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Januari 2022 meningkat signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Januari 2022 meningkat signifikan bila dibandingkan posisi Desember 2021. Tercatat NTP naik 0,30 persen dan NTUP naik 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"NTP nasional Januari 2022 sebesar 108,67 atau naik 0,30 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani naik  0,81 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,50 persen," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Rabu (2/2/2022).

Baca Juga

Margo mengatakan, kenaikan indeks yang diterima petani umumnya karena kenaikan harga jual beberapa komoditas, seperti gabah, kelapa sawit, dan ayam ras. Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar prtani dipicu oleh kenaikan harga ayam beras, minyak goreng, dan rokok.

Dari sejumlah subsektor yang dipantau, tanaman pangan menjadi subsektor yang mengalami peningkatan tertinggi. "NTP tanaman pangan mencapai 100,86 atau meningkat sebanyak 0,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penyebabnya adalah kenaikan indeks harga yang diterima petani meningkat hingga 1,48 persen," sebut Margo.

Sementara itu, NTUP Januari 2022 tercatat 108,65, naik 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Berbeda dengan NTP, pembanding untuk penghitungan NTUP adalah indeks biaya produksi dan penambangan barang modal (BPPBM).

"BPPBM naik sebanyak 0,68 persen, masih di bawah persentase kenaikan indeks harga yang diterima petani," terang Margo.

Performa subsektor tanaman pangan berkaitan erat dari tren harga gabah di tingkat petani. Margo menyebutkan gabah petani dalam bentuk gabah kering panen (GKP) naik sebesar 4,96 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Kenaikan ini meningkat dibandingkan persentase kenaikan bulan sebelumnya sebesar 2,64 persen," ungkap Margo.

Harga beras pun turut mengalami peningkatan. Tercatat pada Januari 2022, harga beras grosir meningkat 0,64 persen dan di tingkat pengecer sebesar 0,94 persen.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri menyebutkan awal tahun ini menjadi masa bagi petani menikmati harga gabah yang dibeli oleh pasar dengan harga tinggi.

"Kenaikan NTP menunjukkan bahwa petani bisa menikmati keuntungan dari hasil produksi mereka," kata Kuntoro.

Kuntoro pun melihat, meski harga beras pun mengalami peningkatan, kenaikannya baik di tingkat grosir maupun eceran masih terkendali dan di bawah persentase kenaikan harga gabah.

"Tentunya tren ini perlu terus dijaga. Kita harus terus upayakan selisih harga antara gabah di tingkat petani dan beras yang dibeli di konsumen tidak terlampau jauh," ujarnya.

Ia menuturkan, agar tidak terjadi disparitas harga yang lebar, Kementan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog dalam upaya menjaga stabilitas harga beras.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi