Senin 22 Nov 2021 10:38 WIB

IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Beragamnya Wall Street

IHSG Senin (22/11) pagi dibuka menguat 11,25 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.731,52

Karyawan melintas di dekat layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG Senin (22/11) pagi dibuka menguat 11,25 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.731,52.
Foto: Prayogi/Republika.
Karyawan melintas di dekat layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG Senin (22/11) pagi dibuka menguat 11,25 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.731,52.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan berpotensi melemah di tengah beragamnya pergerakan indeks saham di Wall Street. IHSG Senin (22/11) pagi dibuka menguat 11,25 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.731,52. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,25 poin atau 0,34 persen ke posisi 966,9.

"Kekhawatiran gelombang ke-4 Covid-19 di zona Euro akan menjadi salah satu sentimen negatif pasar pada pekan ini. Pelaku pasar mencermati potensi lockdown yang dapat mengganggu pemulihan ekonomi, serta masalah rantai pasokan yang mendorong inflasi semakin tinggi. IHSG berpeluang melemah di kisaran 6.678-6.745," tulis Tim Riset Lotus Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Baca Juga

Bursa ekuitas AS ditutup beragam ditengah sentimen negatif terkait kekhawatiran kebangkitan kasus Covid-19, menyusul lonjakan secara global. Bursa AS terpukul setelah Austria mengumumkan rencana penerapan lockdown nasional secara penuh, merespon tingginya kasus positif Covid-19.

Hal itu menyusul Jerman yang juga melakukan pembatasan ketat bagi warga yang belum divaksin setelah mencatatkan kasus harian tertinggi pada pekan lalu. Beberapa saham penerbangan melemah di antaranya Saham United Airline minus 2,76 persen, Delta minus 1 persen dan Boeing minus 5,7 persen. Emiten travel juga turut tertekan dengan Airbnb minus 3,8 persen, Booking Holding minus 1,5 persen dan Norwegia Cruise Line Holding turun minus 2 persen.

Dari data, klaim pengganguram AS turun tipis ke 268.000 klaim untuk minggu yang berakhir pada 13 November, lebih buruk dari konsensus yang memprediksi turun menjadi 260.000. Sementara, angka penjualan ritel Oktober menunjukkan konsumen meningkatkan pengeluaran dengan penjualan naik 1,7 persen (mom).

Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden mempersiapkan skema insentif bagi mobil listrik yang menggunakan baterai buatan dalam negeri dan dikerjakan oleh para buruh anggota serikat pekerja di AS.

Sejalan dengan bursa AS, bursa Eropa juga melemah. Austria mengumumkan akan kembali memasuki lockdown nasional secara penuh pada pekan lalu, mendorong Indeks ATX Austria (minus 3,1 persen) ke posisi terburuk dalam setahun terakhir.

Sementara Presiden European Central Bank (ECB), Christine Lagarde mempertahankan untuk tidak akan menaikkan suku bunga tahun depan, meskipun Bank of England (BOE) telah memberi sinyal kenaikan suku bunga bulan depan akibat lonjakan inflasi.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei melemah 63 poin atau 0,21 persen ke 29.682,88, indeks Hang Seng turun 22,08 poin atau 0,09 persen ke 25.027,89, dan indeks Straits Times meningkat 9,75 atau 0,3 persen ke 3.242,09.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement