Kamis 07 Oct 2021 19:27 WIB

Pengurangan Stimulus Bank Sentral Amerika Berdampak? 

Dampak pengurangan stimulus terhadap Indonesia relatif minim

Dampak pengurangan stimulus terhadap Indonesia relatif minim. Ilustrasi ekonomi
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Dampak pengurangan stimulus terhadap Indonesia relatif minim. Ilustrasi ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ekonom senior Raden Pardede meyakini dampak pengurangan stimulus atau tapering yang akan mulai dilakukan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve terhadap ekonomi Indonesia relatif minim dibandingkan sebelumnya.

Menurut Raden, dengan tapering maka likuiditas di pasar keuangan global akan berkurang dan The Fed pun kemudian perlahan akan menaikkan suku bunga acuannya.

Baca Juga

Dia menjelaskan, dampaknya ke Indonesia manakala kejadian seperti itu, ada kemungkinan kalau suku bunga di Amerika Serikat mulai naik, pemodal terutama di fixed income di bond market menaruh kembali uangnya di Amerika Serikat karena melihat kuponnya lebih menarik di sana. 

“Tapi kita lihat sekarang perbedaan real interest rate atau suku bunga riil antara Amerika Serikat dan Indonesia itu besar sekali mencapai sekarang hampir 7,5 sampai 8 persen. Jadi sangat besar sekali," ujar Raden dalam forum Indonesia Knowledge Forum (IKF) X - 2021 di Jakarta, Kamis (7/10).

 

Selisih suku bunga riil yang masih besar dapat diartikan peluang investor memperoleh keuntungan dalam berinvestasi di Indonesia masih tinggi sehingga membuat investor asing bertahan di pasar finansial domestic.

Alasan berikutnya, lanjut Raden, komposisi kepemilikan asing di pasar dalam negeri terutama di pasar obligasi jauh menurun. Sebelum pandemi Covid-19, kepemilikan asing mencapai 40-50 persen, sedangkan saat ini telah berada di kisaran 28 persen.

"Jadi dampaknya jika pun mereka harus pergi nanti pemilik modal ini, dampaknya sudah jauh berkurang dari sebelum pandemi," kata Raden.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia naik seiring membaiknya kinerja ekspor. Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2021 tercatat sebesar 146,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Agustus 2021 sebesar 144,8 miliar dolar AS.

"Baru sekali ini kita punya cadangan devisa mencapai 147 miliar dolar AS dan sekarang trade balance kita surplus dan kita beruntung harga komoditas membaik. Dengan alasan-alasan itu, dampaknya ke Indonesia meski ada tapering dan ada kenaikan suku bunga di Amerika terhadap ekonomi kita sangat minimal," ujar Raden.

The Fed mengisyaratkan bahwa mereka dapat mulai mencabut stimulus besar era pandemi pada November dan mengakhiri program pada pertengahan 2022. 

Selain itu The Fed mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan cenderung akan menaikkan suku bunga pada 2022.

Sebelumnya pada pertemuan bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada rekor terendah mendekati nol dan memberi sinyal bahwa bank sentral akan segera mulai mengurangi pembelian aset atau tapering meskipun varian Delta meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

The Fed telah berjanji untuk melanjutkan program pembelian asetnya setidaknya pada kecepatan saat ini sebesar 120 miliar dolar AS per bulan sampai "kemajuan lebih lanjut yang substansial" telah dibuat pada lapangan kerja dan inflasi sejak Desember lalu.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh pandemi membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi peningkatan kasus Covid-19 memperlambat pemulihan.   

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement