Selasa 28 Sep 2021 11:25 WIB

Semester I 2021, Antam Cetak Laba Bersih Rp 1,16 Triliun

Total penjualan bersih Antam tercatat sebesar Rp 17,28 triliun.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Petugas menunjukkan emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Antam Denpasar Bali, Kamis (9/9). PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama tahun 2021.
Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Petugas menunjukkan emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Antam Denpasar Bali, Kamis (9/9). PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama tahun 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama tahun 2021. Sekretaris Perusahaan, Yulan Kustian, mengatakan kinerja positif ini didukung oleh peningkatan nilai tambah produk, optimalisasi tingkat produksi, penjualan serta implementasi pengelolaan biaya yang tepat dan efisien.

Kinerja operasi dan keuangan Antam yang solid tercermin dari capaian EBITDA pada paruh pertama tahun ini yang tercatat sebesar Rp 2,49 triliun. Capaian profitabilitas Antam terlihat pada perolehan laba kotor sebesar Rp 3,17 triliun tumbuh 141 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,31 triliun. 

Baca Juga

Sementara itu capaian laba usaha perseroan pada semester pertama 2021 tercatat Rp 1,53 triliun, tumbuh signifikan 442 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 281,65 miliar. Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha ini mendukung capaian laba tahun berjalan.

Antam membukukan laba bersih sebesar Rp 1,16 triliun pada semester pertama 2021, dibanding periode yang sama tahun lalu mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 236,7 miliar. "Faktor pendukung tercapainya peningkatan ini adalah pertumbuhan tingkat penjualan dan pengelolaan biaya beban pokok penjualan dan usaha yang optimal," kata Yulan dalam keterangan resminya, Selasa (28/9). 

Pada tahun 2021, Antam berfokus pada strategi untuk mengembangkan basis pelanggan dibdalam negeri, terutama pemasaran produk emas dan bijih nikel Antam. Strategi ini sejalan dengan pertumbuhan tingkat penyerapan pasar dalam negeri yang cukup tinggi. 

Pada semester pertama tahun 2021, total penjualan bersih Antam tercatat sebesar Rp 17,28 triliun, tumbuh 87 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,24 triliun. Penjualan bersih domestik menjadi penyumbang capaian yang dominan sebesar Rp 13,68 triliun atau 79 persen dari total penjualan Antam. 

Berdasarkan segmentasi komoditas, penjualan produk emas menjadi kontributor terbesar terhadap total penjualan bersih sebesar Rp 11,87 triliun atau sebesar 69 persen. Kontribusi selanjutnya disusul oleh feronikel yang mencatatkan penjualan sebesar Rp 2,59 triliun atau sebesar 15 persen. Lalu bijih nikel berkontribusi sebesar Rp 2,04 triliun atau 12 persen serta segmen bauksit dan alumina berkontribusi sebesar Rp 613,68 miliar atau 4 persen.

Tahun ini, Antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Hal tersebur seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik. 

Kinerja penjualan emas Antam pada semester pertama tahun 2021 mencapai 13.341 kg atau meningkat 69 persen dari capaian penjualan semester pertama tahun lalu. Antam mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 719 kg. 

Segmen nikel juga mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2021. Volume produksi feronikel tercatat sebesar 12.068 TNi. Sementara untuk komoditas bijih nikel, volume produksi yang digunakan untuk bahan baku feronikel Antam dan penjualan kepada pelanggan domestik tercatat sebesar 5,34 juta wmt, meningkat 287 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sedangkan volume penjualan bijih nikel ke pasar domestik pada semester pertama tahun ini mencapai 3,66 juta wmt, tumbub signifikan dibanding capaian semester pertama tahun lalu yang hanya 168 ribu wmt. Menurut Yulan, pada tahun 2021 Antam berfokus pada pengembangan pasar domestik bijih nikel.

"Hal ini seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri dengan tetap mengedepankan aspek konservasi cadangan dan sumberdaya bijih nikel Antam," tutur Yulan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement