Kamis 23 Jul 2020 11:12 WIB

Jokowi Prediksi Ekonomi Kuartal II Merosot Minus 5 Persen

Merosotnya angka pertumbuhan ekonomi nasional sebagai dampak dari pandemi

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Friska Yolandha
Presiden Joko Widodo.
Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Presiden Joko Widodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2020 ini akan merosot tajam. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan minus 4,3 persen hingga minus 5 persen.

Angka ini merosot jauh dari capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 yang sebesar 2,97 persen. “Kita Indonesia di kuartal I masih plus, sebelumnya kita plus 5. Kuartal I 2020 2,97 persen, tapi di kuartal II kita sudah akan jatuh minus. Kita harus ngomong apa adanya, bisa minus 4,3 persen sampai mungkin (minus) 5 (persen),” ujar Jokowi dalam acara penyaluran dana bergulir untuk koperasi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7).

Merosotnya angka pertumbuhan ekonomi nasional ini sebagai dampak dari pandemi covid-19 yang masih belum juga berakhir. Jokowi pun menceritakan pertumbuhan ekonomi dunia yang juga semakin tertekan dan berubah-ubah menjadi semakin sulit.

Pada tiga bulan yang lalu, ia mengaku sempat berkomunikasi dengan managing director IMF yang kemudian menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akan menjadi minus 2,5 persen dari sebelumnya berada di angka 3 persen sampai 3,5 persen.

Kemudian pada sebulan berikutnya atau dua bulan yang lalu, Jokowi kembali berkomunikasi dengan Bank Dunia. Namun ia menerima informasi prediksi pertumbuhan ekonomi global yang akan semakin tertekan yakni minus 5 persen. Dan pada dua pekan yang lalu, Presiden juga menghubungi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan minus 6 persen sampai minus 7,6 persen.

“Gambaran apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa setiap bulan selalu berubah-ubah, sangat dinamis dan posisinya tidak semakin mudah tapi semakin sulit. Minus 2,5 ganti sebulan berikutnya minus 5 persen, satu bulan berikutnya minus 6 sampai minus 7,6 persen. Gambaran kesulitannya seperti itu,” jelas dia.

Berdasarkan data OECD, lanjut Jokowi, pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di dunia yang terdampak covid pun akan diprediksi berada dalam posisi minus. Seperti di Prancis yang akan minus 17 persen, Inggris ada di angka minus 15 persen, Jerman minus 11 persen, Amerika minus 9,7 persen, Jepang minus 8,3 persen, dan Malaysia minus 8 persen.  

“Bayangkan, isinya hanya minus minus minus, dan minusnya itu adalah dalam posisi gede-gede seperti itu,” tambah dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement