Senin 25 May 2020 11:25 WIB

Mengenal Perovskite, Bahan Panel Surya di Masa Depan

Ilmuwan meneliti perovskite agar bisa dikomersialisasi sejak 2012.

Ladang panel surya terbesar di Indonesia di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.
Foto: Dok Kementerian ESDM
Ladang panel surya terbesar di Indonesia di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA --  Hukum kekekalan energi membuat manusia terus berfikir, bagaimana menciptakan energi yang dapat diperbaharui. Mengandalkan energi fosil adalah cara yang tidak bijak dalam penggunaan sumber daya alam.

Salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah Perovskite. Ini adalah sebuah material jenis baru yang dapat menjadi bahan baku panel surya di masa depan.

Baca Juga

Perovskite adalah sejenis mineral yang pertama kali ditemukan di Pegunungan Ural dan dinamai oleh Lev Perovski yang merupakan pendiri Russian Geographical Society. Struktur Perovskite adalah senyawa yang memiliki struktur yang sama dengan mineral Perovskite.

Perovskite memiliki berbagai keunggulan seperti fleksibilitas tinggi, murah, serta mudah untuk dibuat. Mineral Perovskite dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pemanfaatan pembangkit berbasis tenaga surya.

Mineral ini memiliki tingkat efisiensi penyerapan matahari maupun fleksibilitas biaya dibandingkan panel photo voltaic (PV) yang berbasis kristal silikon. Mineral Perovskite juga dinilai mampu menjawab masalah krisis energi terutama bagi negara-negara tropis, seperti Indonesia.

"Ada kelemahan utama dari Silicon PV panel, yaitu sangat tidak efisien, pencapaian efisiensinya hanya sekitar 7-16 persen saja, dan tergantung kepada orientasi penempatan serta kondisi cuaca. Panel Silikon dibuat relatif tebal dan berlapis, tidak seperti film yang tipis, sehingga bisa lebih kuat dan tahan lama, namun disisi lain harus mengorbankan efisiensinya," kata Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Adbul Manaf.

Penemuan Perovskite, kata Nanang, dapat menjanjikan hasil yang lebih baik sehingga bisa menjadi andalan yang dapat mengalahkan atap panel dari sisi efisiensi. "Panel-panel dengan lapisan-lapisan film tipis Perovskite dapat menyerap cahaya dari panjang gelombang yang kisarannya sangat lebar dan lebih produktif menghasilkan listrik dibanding silikon PV panel," ungkapnya.

Riset terbaru yang dilakukan oleh Universitas Oxford di tahun 2018 menunjukkan, tingkat efisiensi pemanfaatan Perovskite hingga menyentuh angka 25 persen. Bahkan pada bulan Desember 2018 bisa mencapai 28 persen. Hingga saat ini, para saintis terus mengembangkan riset tersebut untuk dikomersilkan secara masal sejak diteliti pada tahun 2012.

Pemanfaatan matahari di Indonesia sebagai sumber energi dinilai sebagai langkah yang tepat. Hal ini mempertimbangkan sifat matahari sebagai sumber energi yang tidak terbatas. Menurut International Energy Agency (IEA), tenaga surya telah menyuplai sekitar 592 Giga Watt atau hanya sekitar 2,2 persen saja dari pemakaian tenaga listrik dunia sebesar 26,571 Giga Watt di tahun 2018.

Setelah maraknya pemasangan Photovoltaic (PV), maka pemakaian tenaga surya meningkat menjadi 100 Giga Watt atau 20 persen dari pemakaian listrik dunia. Lebih dari 90 persen pemasangan panel photovoltaic (PV) dibuat dari Kristal silicon.

"Tentunya hal ini merupakan babak baru kehidupan manusia, mulai meninggalkan sumber energy fosil yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Selamat datang Perovskite," tegas Nanang.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement