Rabu 15 Apr 2020 12:01 WIB

Neraca Dagang Maret Surplus 743 Juta Dolar AS

Kondisi neraca perdagangan Maret 2020 membaik dibandingkan Maret 2019.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (26/7). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar 743 juta dolar AS. Komposisinya, ekspor sepanjang bulan lalu mencapai 14,09 miliar dolar AS, sementara impor 13,35 miliar dolar AS.
Foto: Viddi Simanjuntak/Antara
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (26/7). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar 743 juta dolar AS. Komposisinya, ekspor sepanjang bulan lalu mencapai 14,09 miliar dolar AS, sementara impor 13,35 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar 743 juta dolar AS. Komposisinya, ekspor sepanjang bulan lalu mencapai 14,09 miliar dolar AS, sementara impor 13,35 miliar dolar AS.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, kondisi neraca perdagangan yang masih surplus di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini merupakan berita menggembirakan. Hanya saja, kita masih harus terus melihat situasi pada bulan-bulan mendatang. "Khususnya di tengah situasi sekarang ini," tuturnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/4).

Baca Juga

Kondisi neraca perdagangan bulan lalu juga membaik dibandingkan Maret 2019 yang mengalami surplus 540 juta dolar AS. Tapi, memang masih lebih rendah dibanding surplus Februari 2020 yang mencapai 2,34 miliar dolar AS.

Secara umum, Suhariyanto mengatakan, perkembangan berbagai harga komoditas baik migas dan non migas pada Maret 2020 menunjukkan penurunan cukup dalam. Misalnya saja pada harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia (ICP) turun dari 56,61 dolar AS per barel pada Februari menjadi 34,23 dolar AS per barel.

"Artinya, ICP turun curam 39,53 persen secara month-to-month (m-to-m), sedangkan year on year (yoy) atau dibandingkan Maret 2019 lebih dalam, 46,18 persen," ucap Suhariyanto.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor neraca dagang migas yang masih defisit. Pada bulan lalu, defisitnya mencapai 932,6 juta dolar AS, relatif lebih membaik dibandingkan bulan Januari dan Februari yang masing-masing mencapai minus 1,1 miliar dolar AS dan 942 juta dolar AS.

Tidak hanya harga migas, komoditas non migas juga mengalami tren serupa. Misalnya saja harga minyak sawit yang turun 12,9 persen dari Februari ke Maret. Begitupun batu bara yang turun 2,22 persen secara m-to-m dan lebih dalam jika dibandingkan Maret 2019, yakni sampai negatif 29,0 persen.

Harga karet yang menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia juga tercatat turun 6,83 persen. "Jadi, fluktuasi harga berbagai komoditas migas dan non migas ini akan mempengaruhi total ekspor maupun impor Indonesia," kata Suhariyanto.

Meski harga komoditas nonmigas banyak mengalami penurunan, neraca dagangnya tetap mencatat surplus pada bulan lalu, yakni 1,67 milar dolar AS, karena adanya kenaikan volume. Hanya saja, nilai ini menurun dibandingkan Februari 2020, 3,45 miliar dolar AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement