Kamis 20 Feb 2020 16:34 WIB

BI: Proyeksi Pertumbuhan Kredit 2020 Diturunkan

BI turunkan proyeksi kredit dari 12 persen ke 9-11 persen.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan para Deputi Gubernur menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2020 di Komplek Bank Indonesia, Kamis (20/2).
Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dan para Deputi Gubernur menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2020 di Komplek Bank Indonesia, Kamis (20/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan kredit 2020 karena virus corona baru, Covid-19. Pertumbuhan kredit 2020 diperkirakan dalam kisaran 9-11 persen, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 10-12 persen.

"Pertumbuhan kredit 2020 turun seiring dengan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 5,1-5,5 persen jadi 5-5,4 persen," katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (20/2).

Baca Juga

Pertumbuhan kredit 2021 diproyeksikan meningkat lagi jadi 10-12 persen. Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) 2020-2021 diproyeksikan tumbuh dalam kisaran 8-10 persen.

Dari sisi kualitas, BI optimistis perbankan Indonesia punya kekuatan yang cukup untuk mempertahankan kualitas kredit. Sisi rasio kredit bermasalah (NPL) dinilai tetap rendah yakni 2,53 persen (gross) atau 1,18 persen (net).

"Ini membuktikan total NPL nasional itu rendah, bank-bank punya cadangan yang cukup untuk meliputi risiko," katanya.

Perry mengatakan BI juga melakukan penilaian terhadap korporasi-korporasi di Indonesia. Hasilnya, daya tahan korporasi dinilai masih cukup kuat. Perry mengakui kinerja keuangan korporasi memang menurun, termasuk dari sisi profitabilitas.

Namun dengan interest coverage rasio yang masih diatas satu persen, artinya korporasi Indonesia punya kemampuan bayar yang masih tinggi. Respons akomodatif BI juga dengan bauran kebijakan termasuk langkah pre-emptive.

"Kami perluas cakupan komponen pendanaan dan pebiayaan dalam rim, yakni dari kantor cabang bank di luar negeri yang diperuntukkan bagi ekonomi Indonesia, selama ini belum dihitung," katanya. Hal tersebut akan memperluas ruang gerak perbankan untuk menyalurkan kredit.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement