Selasa 11 Feb 2020 19:46 WIB

Status Oranye Travel Warning Singapura Pengaruhi Perdagangan

Kemendag menyebut Singapura merupakan salah satu tujuan ekspor Indonesia

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah turis dari Taiwan, China dan Singapura yang datang dari Malaysia bersiap menjalani pemeriksaan keimigrasian di terminal penumpang Pelabuhan Internasional PT Pelindo I Dumai di Dumai, Riau, Jumat (7/2). Kemendag menyebut Singapura merupakan salah satu tujuan ekspor Indonesia
Foto: Antara/Aswaddy Hamid
Sejumlah turis dari Taiwan, China dan Singapura yang datang dari Malaysia bersiap menjalani pemeriksaan keimigrasian di terminal penumpang Pelabuhan Internasional PT Pelindo I Dumai di Dumai, Riau, Jumat (7/2). Kemendag menyebut Singapura merupakan salah satu tujuan ekspor Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peningkatan status travel warning Singapura dari kuning menjadi orange dinilai dapat memengaruhi perdagangan Indonesia. Seperti diketahui, status Singapura meningkat karena jumlah warganya yang terkena virus corona semakin banyak.

Sebagai informasi, ada empat status travel warning yaitu hijau, kuning, oranye, dan merah. Kuning merupakan imbauan agar meningkatkan kehati-hatian. Sementara status paling tinggi yakni merah, berarti tidak direkomendasikan pergi ke sana.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan, Singapura merupakan salah satu tujuan ekspor Indonesia. "Tapi kan (ekspor) kita ke Singapura turun terus, artinya transit ke Singapura turun terus, jadi kita sudah mengurangi transit, tapi direct-nya dari Indonesia terus naik," ujar Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kemendag Kasan, pada Selasa, (11/2).

Ia menambahkan, dulu Singapura masuk sebagai tiga besar negara tujuan ekspor Tanah Air, namun kini posisinya di bawah lima. Sementara posisi teratas tujuan ekspor Indonesia dipegang oleh China.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menambahkan, Indonesia banyak tergantung dengan Singapura. Baik dari sisi investasi maupun perdagangan. Bila aktivitas perdagangan di negeri tersebut terganggu, maka pengaruhnya sampai ke Tanah Air. "Sebab kita impornya dari negara lain, tapi lewat Singapura,"ucap Faisal kepada wartawan di Jakarta, Selasa, (11/2).

Maka menurutnya, Indonesia perlu memperkuat sistem logistik dengan mencari jalur lain sebagai alternatif. Sistem logistik pun, kata dia, perlu diperbaiki, supaya pelabuhan Indonesia bisa melayani ekspor serta impor secara langsung.

"Singapura kan efek penyebaran corona di China. Kalau dari Core, dampak penurunan ekonomi China sebesar satu persen akan berpengaruh pada ekonomi Indonesia sebesar 0,1 sampai 0,2 persen," tutur Faisal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement