Selasa 21 Jan 2020 05:51 WIB

Pertamina-Barata Indonesia Percepat Pembangunan Kilang

Kerja sama pekerjaan percepatan pembangunan kilang minyak Pertamina.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Gita Amanda
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementrian Perindustrian Harjanto (kanan) bersama Dirut Pertamina Nicke Widyawati (kedua kanan), Dirut Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno (ktengah) dan Dirut Krakatau Steel Silmy Salim (kedua kiri) serta Direktur Megaproyek Pengelolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang (kiri) mengunjungi galeri projek pengembangan kilang Pertamina sebelum penandatangan komitmen bersama di Workshop Barata Indonesia, Gresik, Jawa Timur, Senin (20/1/2020).
Foto: ANTARA FOTO
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementrian Perindustrian Harjanto (kanan) bersama Dirut Pertamina Nicke Widyawati (kedua kanan), Dirut Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno (ktengah) dan Dirut Krakatau Steel Silmy Salim (kedua kiri) serta Direktur Megaproyek Pengelolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang (kiri) mengunjungi galeri projek pengembangan kilang Pertamina sebelum penandatangan komitmen bersama di Workshop Barata Indonesia, Gresik, Jawa Timur, Senin (20/1/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, GRESIK -- PT Pertamina (Persero) dan  PT Barata Indonesia (Persero) menggelar kick off program percepatan pembangunan kilang minyak di  Workshop Heavy Machining Center milik PT Barata Indonesia, Gresik, Senin (20/1). Kick off tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dari semua pihak terkait untuk pekerjaan percepatan pembangunan kilang minyak Pertamina.

 Rencananya ada sekitar lima kilang minyak serta dua kilang gas, yang pengerjaannya ditarget selesai pada 2027. “Industri manufaktur memang harus didorong untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas dalam mendukung pembangunan strategis, seperti kilang dan industri berat lainnya, sehingga dapat menciptakan efek multiplier dalam pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero), Fajar Harry Sampurno.

Fajar menegaskan, kerja sama itu merupakan tindak lanjut dari keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Keputusan Nomor: 284/MBU/11/2019. Keputusan Menteri BUMN itu menunjuk PT. Barata Indonesia menjadi anggota tim percepatan pembangunan kilang minyak.

"Penugasan tersebut juga dilatarbelakangi upaya pemerintah untuk meningkatkan persentase TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dalam Proyek Strategis Nasional serta untuk menekan jumlah impor migas," kata Fajar.

Fajar meyakini, ditunjuknya Barata Indonesia sebagai anggota tim percepatan pembangunan kilang minyak, karena perusahaan memiliki pengalaman yang panjang di bidang industri manufaktur, termasuk industri migas. Produk–produk yang dihasilkan oleh perusahaan juga telah mampu diekspor ke beberapa negara di luar negeri.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, selain Barata Indonesia, perusahaan yang menjadi anggota tim percepatan pembangunan kilang adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Rekayasa Industri, dan PT Tuban Petrochemical Industries. Nicke menegaskan, itu merupakan bagian dari komitmen mengoptimalkan penggunaan komponen TKDN.

"Kita telah mengetahui kemampuan Barata. Langkah awal ini bagaimana kita membangun  kilang yang sangat besar tetapi juga melihat TKDN," ujar Nicke.

Nicke berpendapat, Barata Indonesia memiliki kompetensi dan juga pengalaman panjang dalam membangun infrastruktur di industri minyak dan gas bumi. Itu lah yang menjadi alasan ditunjuknya perusahaan tersebut sebagai koordinator klaster industri manufaktur BUMN, termasuk dalam pembangunan kilang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement