Kamis 19 Dec 2019 01:40 WIB

Laba Fedex 2020 Diprediksi Menyusut

Laba bersih Fedex yang disesuaikan turun 38,9 persen menjadi 660 juta dolar AS

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Friska Yolanda
Logo Fedex
Foto: Wikipedia
Logo Fedex

REPUBLIKA.CO.ID, MEMPHIS -- Perusahaan ekspedisi jasa pengiriman barang Fedex diperkirakan bakal mengalami penyusutan laba. Hal tersebut terjadi guna mengejar jadwal pengiriman di tengah waktu libur, perang tarif global hingga berakhirnya kerja sama dengan situs jual beli online, Amazon.

"Kami mengeluarkan biaya ramp-up di Q2, dengan minimnya keuntungan bagi perusahaan," kata Presiden Fedex Rajesh Subramaniam saat mengadakan konferensi dengan para analis seeprti diwartakan Reuters, Rabu (18/12).

Dia mengatakan, laba bersih Fedex yang disesuaikan turun 38,9 persen menjadi 660 juta dolar AS atau 2,51 dolar AS per saham. Menurut data IBES dari Refinitiv selama kuartal kedua fiskal, kehilangan estimasi rata-rata analis untuk laba 2,76 dolar AS per saham.

"Harapan kami untuk pemulihan dan pertumbuhan perdagangan yang diungkapkan Juni lalu tidak terwujud karena perselisihan perdagangan," kata pendiri dan kepala eksekutif Fedex Fred Smith.

Saham Fedex turun 6,5 persen menjadi 152.60 dolar AS selama perpanjangan waktu dagang karena Thanksgiving. Hal tersebut berdampak pada rusaknua hasil perusahaan pada kuartal yang berakhir 30 November.

Marjin operasi di segmen Fedex Ground anjlok menjadi 6,4 perseb dari 11,5 persen pada tahun lalu. Penurunan terjadi pada sebagian besar terkait dengan biaya penambahan pengiriman hari Ahad atau jaminan 7 hari pengiriman.

Di Express, layanan pengiriman cepat yang berfokus pada pesawat juga mengalami penurunan margin operasi menjadi 2,6 persen dari 6,6 persen pada tahun lalu. Itu terjadi setelah produksi industri yang lemah berkontribusi pada kelembutan dalam bisnis komersialnya yang lebih menguntungkan.

Pada September, Fedex menurunkan perkiraan penghasilannya untuk tahun yang berakhir Mei 2020, menjadi 11 dolar dari 13 dolar AS per saham. Perusahaan memangkasnya dari 10,25 dolar AS menjadi 11,50 dolar AS per saham.

Hal itu dilakukan menyusul target pendapatan yang terlewatkan di semua segmen transportasi dan biaya pengiriman yang lebih tinggi. Musim liburan kali ini yang lebih singkat dari tahun lalu menekan perusahaan pengiriman paket pada saat pengecer menuntut pengiriman lebih cepat.

CEO LateShipment.com, Sriram Sridhar melacak pengiriman jarak jauh dan mengatakan data yang diambil dari klien menunjukkan bahwa Fedex tertinggal di kota-kota besar seperti Los Angeles, Seattle, Boston dan New York.

Dia mengatakan, sebesar 15 persen paket Fedex tertunda di beberapa daerah yang paling parah terkena dampaknya. Dia memprediksi bahwa pada akhir musim, Fedex dapat memiliki keterlambatan satu hingga dua persen lebih banyak daripada UPS.

Amazon minggu ini untuk sementara memblokir penjual pihak ketiga tertentu dari menggunakan jaringan pengiriman Fedex Ground untuk menangani pengiriman Prime saat pengecer online berusaha untuk mencapai tenggat waktu pengiriman yang dipercepat. Fedex musim panas ini mengakhiri kontraknya dengan Amazon, yang sedang membangun jaringan persaingan logistik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement