Ahad 15 Dec 2019 11:12 WIB

Muhammad “Tamasia” Assad, Tawarkan Gaya Milenial Investasi Emas

Startup pertama di bidang jual-beli emas fisik ini sengaja menjaring kaum milenial.

Rep: Dyah Hasto Palupi (swa.co.id)/ Red: Dyah Hasto Palupi (swa.co.id)
Muhammad Assad,  co-founder & CEO Tamasia
Muhammad Assad, co-founder & CEO Tamasia

Baca Juga

Sejak awal didirikan Muhammad Assad pada Mei 2017, konsep Tamasia di bawah bendera PT Tamasia Global Sharia memang sudah unik. Startup pertama yang bergerak di bidang jual-beli emas fisik ini sengaja menjaring kaum milenial agar terbiasa bertransaksi dan berinvestasi melalui emas.

Platform ini membuka fasilitas jual-beli emas, titip emas, dan simpan emas, termasuk pembelian emas dari yang terkecil 0,02 gram hingga 1.000 gram, yang bisa dibayar secara berkala hingga 24 bulan.

Assad mengatakan, ide awal Tamasia memang mengajak anak muda untuk mulai melirik tabungan emas. Nama Tamasia merupakan singkatan dari Tabungan Emas Indonesia.

“Kami berharap setiap orang bisa beli dari mulai harga Rp 10 ribu karena konsepnya seperti konsep menabung,” ungkap co-founder & CEO Tamasia ini. Ia menargetkan masyarakat berusia 20-40 tahun sebagai konsumennya. Menurutnya, fitur tidak mengharuskan membeli secara berkala. Konsumen diizinkan menabung kapan pun, ketika mereka memiliki uang.

Namun, Tamasia juga menawarkan fitur cicilan. Untuk pembelian emas 5 gram, misalnya, konsumen bisa menyicil selama enam bulan, sembilan bulan, atau 12 bulan. Per bulan konsumen wajib mencicil sebesar hasil pembagian harga emas dengan jumlah bulan cicilan.

Bagi Assad, tawaran Tamasia ini menarik. Pertama, harga yang ditawarkan paling murah. Kedua, satu-satunya yang menggunakan sistem syariah. “Syariah di sini bukan hanya untuk kalangan muslim, tetapi sistem bisnis kami yang mengusung win-win antara para pelanggan dan pebisnis,” katanya tandas. Pihaknya bermaksud mengedepankan transparansi. “Pelanggan mengetahui harga emas kami, dan di mana disimpan,” ujarnya.

Dan ketiga, Tamasia juga menyediakan emas fisiknya. Sebab, Tamasia menggunakan sistem syariah yang mengharuskan bentuk fisik barang yang dijual. “Nah, kami ada emasnya, yakni emas Antam. Kami hanya menjual emas Antam,” ujar pengusaha berusia 31 tahun lulusan S-2 Islamic Finance (summa cum-laude) dari Hamad bin Khalifa University, Doha (Qatar) ini.

Yang tak kalah menarik, Tamasia sangat peduli layanan. “Event yang kami buat adalah untuk konsumen. Kami adalah salah satu platform yang paling aktif untuk program activation. Kami ada seminar, arisan, dll. Itulah yang membuat engagement kami dengan konsumen lebih baik dibanding yang lain,” kata pria yang juga anggota Hipmi Jaya dan pernah mendapatkan penghargaan 100 The Most Promising Young Indonesian Entrepreneur dari majalah SWA ini.

Hingga sekarang, startup ini sudah menjaring 250 ribu pengguna. Targetnya, sampai akhir tahun ini akan mencapai 500 ribu pengguna, yang 70 persennya merupakan milenial dengan rentang umur 20-40 tahun.

Assad optimistis target penjualan emas dan pengguna baru Tamasia dapat tercapai seiring dengan upaya pihaknya untuk lebih banyak menggaet partnership business to business. Saat ini Tamasia telah bekerjasama dengan Paytren dan Kudo. “Peluang jual-beli emas sangat luar biasa,” ujarnya.

Transaksi setiap pengguna beragam, dengan rata-rata pembelian minimum Rp 10.000 hingga Rp 150.000. Sementara itu, dalam tiga bulan terakhir pihaknya berhasil membukukan kenaikan transaksi yang cukup signifikan seiring dengan reli penguatan harga emas dunia dalam beberapa perdagangan terakhir.

“Transaksi kami naik hampir 125% dalam satu bulan terakhir, dari Juni hingga Juli. Hampir 1,5 kali lipat. Jadi dengan harga emas yang naik saat ini, transaksi kami pun berhasil meningkat,” ungkap Assad.

Salah satu pelanggan Tamasia adalah Diestra Perdana (27 tahun). Diestra tertarik menabung emas karena, menurutnya, emas menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik sejak Agustus 2018.

“Saya rutin menabung emas. Nilai yang saya setorkan ratusan ribu atau 5-10% dari total penghasilan per bulan,” ujarnya. Ia tidak sering melakukan setor-tarik karena selama ini terus menabung untuk mencapai target gram emas yang diinginkan.

Bertransaksi dengan Tamasia, menurut Diestra, cukup nyaman dan menyenangkan karena Tamasia selalu menawarkan promo sehingga menarik konsumen.”Selain itu, aplikasinya mudah digunakan dan tidak ribet,” ujarnya.

Bagi Diestra, untuk berinvestasi memang tidak boleh ragu-ragu dan terlalu banyak menunggu. “Waktu terbaik membeli emas adalah ketika ada uang. Jangan berpikir dan menunggu harga murah terus, karena tren emas saat ini sedang mengalami kenaikan,” katanya menyarankan. (*)

Dyah Hasto Palupi/Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement