REPUBLIKA.CO.ID, ENDE – PT Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Wilayah (UIW) NTT menargetkan seluruh masyarakat di wilayah tersebut bakal menikmati listrik pada 2020 mendatang. Manager Unit Pelaksana Pembangkitan Flores PLN Lambok R Siregar mengungkapkan, kini pihaknya sedang bekerja keras menambah kapasitas listrik di seluruh wilayah NTT, termasuk di Pulau Flores.
Pihaknya, ungkap Lambok, harus agresif membangun jaringan listrik, termasuk mulai dari pembangkit, gardu, dan transmisinya. Cara ini harus dilakukan demi memperbesar porsi pasokan listrik yang kini belum mampu mengaliri seluruh wilayah di NTT.
Tercatat hingga Oktober 2019 saja, menurut Lambok, rasio elektrifikasi di NTT baru menyentuh angka 84,68 persen. Meski demikian, angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan capaian 2018 lalu yang masih pada level 62,88 persen.
Panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kokoh tertanam di ketinggian Pulau Messah, Desa Pasir Putih, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (29/11/2019) lalu. (Foto : Rakhmat Hadi Sucipto)
Tidak hanya itu problem di NTT. Lambok menuturkan, hingga kini belum semua desa di provinsi tersebut mendapat pasokan listrik PLN. Sampai Oktober 2019, rasio desa berlistrik (RDB) NTT masih 90,22 persen. Ini kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 76,68 persen.
Capaian tersebut jelas menggembirakan. Rasio elektrifikasi di NTT meningkat 21,8 persen dari 2018 ke Oktober 2019. Khusus rasio desa berlistrik, kenaikannya mencapai 13,54 persen.
Dari 22 kabupaten/kota di NTT, ada tiga kabupaten yang memiliki rasio elektrifikasi 60-70 persen dan empat kabupaten berasio 70-80 persen. Yang memiliki rasio 80-100 persen mencapai 14 kabupaten, sedangkan yang sudah 100 persen hanya satu daerah.
PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT mengelola 17 sistem kelistrikan. Sistem kelistrikan tersebut terbagi menjadi tiga kategori, yaitu 1) sistem kecil (isolated) dengan delapan sistem, 2) sistem sedang enam sistem, dan 3) sistem besar empat sistem. Tidak ada defisit daya dari seluruh sistem tersebut.
Menurut Lambok, Unit Pelaksana Pembangkitan Flores termasuk penyangga sistem kelistrikan NTT. Hingga November 2019 kapasitas terpasang di Flores mencapai 190 megaWatt (mW). Kapasitas ini berasal dari PLTU 7,36 persen, PLTD 45,01 persen, PLTMG 37,09 persen, PLTS 2,36 persen, PLTMH 1,52 persen, dan PLTP 6,63 persen. “Kapasitas pembangkit EBT saat ini sudah mencapai 20 mW atau setara dengan 10,5 persen dalam kelistrikan Pulau Flores,” ungkap Lambok saat memantau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sokoria yang berlokasi di Desa Sokoria, Kecamatan Ndona Timur, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (28/11/2019) lalu.
Head of Corporate Affair PT Sokoria Geothermal Indonesia Syahrini Nuryanti menyatakan, pihaknya sangat yakin mampu memenuhi target penyelesaian pembangunan PLTP Sokoria pada Februari 2020. Saat ini sudah memasuki tahap pembangunan dan konstruksi pembangkit. Pengeboran sumur geothermal sudah dilakukan mulai 2017 lalu. “Saat ini totalnya sudah ada lima sumur yang dibor," jelas Syahrini.
Syahrini mengatakan, nantinya secara keseluruhan akan ada tujuh sumur geothermal yang dioperasikan untuk memasok pembangkit listrik. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi PLTP Sokoria sebesar 30 mW. “Akan tercapai pada 2024 nanti,” ujarnya.
Untuk memasok kelistrikan Flores dan sekitarnya, jelas Lambok, PLN akan menuntaskan jalur transmisi di seluruh pulau yang mencapai 600 km. Transmisi ini akan menghubungkan kelistrikan mulai dari Larantuka sampai dengan Labuhan Bajo.
Kehadiran PLTP Sokoria, jelas Lambok, akan membantu menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik, khususnya di wilayah Flores. Imbasnya, BPP di Nusa Tenggara juga akan ikut menyusut. “Biaya untuk PLTP Sokoria ini hanya 12 sen per kWh” ujar Lambok.
Dengan biaya 12 sen per kWh, ungkap Lambok, jelas tarif listriknya sangat terjangkau. BPP PLTP Sokoria ini lebih murah ketimbang BPP Flores yang rata-rata mencapai Rp 2.542 per kWh. Tingginya BPP tersebut sebagai imbas dari penggunaan PLTD yang masih mendominasi di wilayahnya.