Selasa 19 Nov 2019 10:20 WIB

Terdampak Perang Dagang, IHSG Berpotensi Terkoreksi

Meski dibuka menguat, IHSG berpotensi terkoreksi akibat sentimen eksternal.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolanda
Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Selasa (19/11). IHSG menguat ke level 6136 dari level 6.122 pada penutupan perdagangan Senin (18/11).

Meski demikian, PT Valbury Sekuritas memprediksi penguatan ini tidak bertahan lama. Valbury Sekuritas melihat IHSG berpotensi terkoreksi salah satunya dipicu faktor eksternal.

China pesimistis dengan masa depan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS), karena keengganan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan tarif. Trump menegaskan belum setuju untuk membatalkan tarif atas barang-barang China. 

"Tentunya ini bertentangan dengan sinyal dari China dan mengurangi harapan atas kesepakatan perdagangan," ujar kepala riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah.

Adapun sentimen dalam negeri dipengruhi oleh faktor neraca dagang. Realisasi defisit anggaran hingga akhir Oktober 2019 mencapai Rp 289,1 triliun atau 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Pencapain ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp229,7 triliun atau 1,56 persen terhadap PDB dan mendekati target APBN 2019 sebesar Rp 296 triliun atau 1,84 persen terhadap PDB. Defisit anggaran dipengaruhi oleh penerimaan perpajakan yang baru mencapai Rp 1.173,9 triliun atau sekitar 65,7 persen dari target APBN Rp 1.786,4 triliun. 

Selain itu, perang dagang antara Amerika (AS) dan Cina masih menjadi isu ekonomi global. Dari sisi global yang lain, kondisi manufaktur Jerman mengalami kontraksi. 

Dari negara berkembang, utang Argentina yang mengalami gagal bayar, krisis di Venezuela, dan Chile juga gejolak yang terjadi di Bolivia. Sementara itu dari sisi Asia, ekonomi Cina terus mengalami pelemahan. Jepang serta Korea juga masih dalam kondisi ketegangan karena masalah historis.

Dalam kondisi global yang begitu sangat dinamis dan cenderung negatif, Indonesia masih tetap bisa menjaga pertumbuhan ekonominya pada kisaran 5 persen. Dengan stabilitas ekonomi yang terjaga, mendorong konsumsi rumah tangga dan lembaga non-profit rumah tangga tetap tumbuh kuat. 

Inflasi tetap terkendali dan pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, Neraca Pembayaran Indonesia di triwulan III 2019 mengalami perbaikan defisit yang didorong oleh penurunan defisit transaksi berjalan dan peningkatan surplus transaksi modal dan finansial.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement