Kamis 31 Oct 2019 00:05 WIB

Sinergi dengan Semen Indonesia, SBI Capai Kinerja Positif

Ekspor semen mengalami kenaikan 15,38 persen menjadi 4,7 juta ton.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
Semen Indonesia
Foto: Semen Indonesia
Semen Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) terus memperbaiki kinerja keuangan perusahaan dengan memperkecil kerugian secara bertahap, hingga pada akhir September berhasil kembali mencatatkan laba sejak bergabung dengan Semen Indonesia pada Februari 2019, meskipun pasar masih mengalami tekanan karena kelebihan pasokan.

CEO atau Presiden Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Aulia M Oemar menyampaikan berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), konsumsi semen nasional hingga kuartal III/2019 mengalami perlambatan -2 persen menjadi 48,7 juta ton.

Meskipun demikian, potensi peningkatan kebutuhan pasar terlihat pada segmen-semen kantong khususnya di Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi dan wilayah Timur Indonesia. Sedangkan ekspor mengalami kenaikan 15,38 persen menjadi 4,7 juta ton.

"Sinergi dengan Semen Indonesia mendorong kenaikan volume penjualan SBI sebesar 2,27 persen dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan perusahaan

sebesar 2,23 persen menjadi Rp 7,7 triliun, dari sebelumnya Rp 7,6 triliun pada periode yang sama pada 2018," ujar Aulia dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id di Jakarta, Rabu (30/10).

Aulia mengatakan laba bruto juga meningkat sebesar 37,71 persen dan EBITDA melonjak hingga 68,82 persen. Aulia menilai pencapaian ini tidak lepas dari program-program efisiensi dan sinergi yang terbukti berhasil menurunkan faktor-faktor biaya penjualan dan operasional.

"Biaya operasional turun 10,47 persen dikontribusikan oleh penurunan pada beban distribusi 3,08 persen dan penurunan beban penjualan 47,68 persen," ucap Aulia.

Kata Aulia, beragam upaya yang dilakukan perusahaan seperti peningkatan utilisasi pabrik dan program transformasi biaya, mampu memberi kontribusi pada total penurunan beban pokok pendapatan sebesar 5,47 persen. Ia juga membeberkan laba sebelum bunga dan pajak penghasilan tercatat mencapai Rp 665 miliar dibandingkan kerugian pada periode yang sama pada 2018.

"SBI juga mampu bangkit dari keterpurukan sejak 2015 dan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 134 miliar jika dibandingkan kerugian yang dialami pada tahun-tahun sebelumnya," kata Aulia.

Setelah meluncurkan Dynamix sebagai merek baru pada akhir September lalu, ucap Aulia, SBI kini gencar melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada seluruh pelanggan dan para pemangku kepentingan melalui beragam program.

"Ke depan, SBI akan terus fokus untuk melanjutkan tren positif ini guna terus memperbaiki kinerja keuangan dengan memperkuat fundamental operasional, serta fokus pada program-program penambahan nilai untuk konsumen baik dari produk, solusi, maupun layanan pelanggan," kata Aulia menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement