Senin 21 Oct 2019 07:28 WIB

Di Pertemuan IMF-World Bank, BI Sepakat Perkuat Kerja Sama

Berbagai risiko tetap mengancam pertumbuhan ekonomi global, seperti ketegangan dagang

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo  menghadiri rangkaian acara Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) pada 16-19 Oktober 2019 di WashingtonDC, AS.
Foto: Dok BI
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menghadiri rangkaian acara Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) pada 16-19 Oktober 2019 di WashingtonDC, AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama internasional dalam Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo yang menghadiri rangkaian acara tersebut menyampaikan, BI sepakat bahwa diperlukan upaya bersama.

"Yakni untuk meningkatkan kerja sama, memitigasi risiko, meningkatkan resiliensi dan mengimplementasikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan melalui bauran kebijakan," katanya dilansir siaran pers BI, Ahad (20/10).

BI juga mendukung kelanjutan kajian Integrated Policy Framework yang sedang dilakukan IMF untuk meningkatkan pemahaman dan efektivitas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh setiap negara sesuai dengan karakteristik dan kondisinya. Berbagai risiko tetap mengancam pertumbuhan ekonomi global antara lain berupa ketegangan perdagangan.

Ini berimplikasi pada ketidakpastian kebijakan, risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan. Di samping itu, risiko terkait perubahan iklim juga menjadi perhatian pada Pertemuan Tahunan.

Ini dipandang memiliki dampak bagi stabilitas sistem keuangan sehingga perlu segera dimitigasi dengan kebijakan di sektor keuangan. Lebih lanjut, perkembangan teknologi pun menjadi topik diskusi sehubungan dengan manfaat dan juga risikonya.

"Sehingga diperlukan upaya untuk menyeimbangkan dukungan bagi inovasi di sektor keuangan dengan pengaturan pengawasannya," katanya.

Dalam plennary meeting International Monetary and Financial Committee (IMFC), peserta mendukung Global Policy Agenda IMF yang disampaikan Managing Director IMF yang baru, Kristalina Georgieva. Program tersebut berupaya untuk memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan resiliensi dan meningkatkan inklusivitas perekonomian global.

Tujuannya untuk mendukung pertumbuhan yang lebih berkesinambungan, termasuk memfasilitasi solusi global terkait teknologi finansial (tekfin) yang sejalan dengan Bali Fintech Agenda. Upaya yang akan dilakukan IMF tersebut dilatarbelakangi pertumbuhan perekonomian global yang diperkirakan melambat dari 3,6 persen pada 2018 menjadi 3,0 persen pada 2019, sebelum akhirnya diproyeksikan kembali melanjutkan momentum positif menjadi 3,4 persen pada 2020.

Pada rangkaian pertemuan tahunan tersebut juga diselenggarakan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20. Pada pertemuan tersebut Dody menyampaikan pentingnya mengatasi kerentanan di sektor keuangan yang disebabkan oleh fragmentasi di sektor keuangan untuk memastikan resiliensi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

BI menekankan pentingnya melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan, dengan tetap memperhatikan fleksibilitas bagi otoritas sesuai dengan kondisi spesifik di setiap negara. Hal ini dapat dicapai melalui identifikasi kerangka pengaturan dan pengawasan yang ada untuk mengatasi kerentanan yang ada dan kerja sama internasional yang dibutuhkan, termasuk yang disebabkan dari perkembangan teknologi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement