Kamis 17 Oct 2019 14:35 WIB

Produk Perikanan Jateng Catat Nilai Ekspor Rp 2,1 Triliun

Ekspor produk perikanan paling dominan adalah daging rajungan Rp 718 miliar.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Friska Yolanda
Nelayan menunjukkan hasil tangkapan kepiting rajungan (Portunus pelagicus) di Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (8/7/2019).
Foto: Antara/Arnas Padda
Nelayan menunjukkan hasil tangkapan kepiting rajungan (Portunus pelagicus) di Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (8/7/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pengawasan terhadap mutu dan keamanan hasil perikanan oleh BKIPM Semarang, terus berkorelasi terhadap daya jual produk perikanan Jawa Tengah di pasar global. Perihal ini bisa dilihat dari data perkembangan ekspor komoditas perikanan di Jawa Tengah, yang dicatat BKIPM Semarang, hingga triwulan ketiga tahun 2019.

"Data ekspor periode Januari hingga September 2019 telah menyentuh angka Rp 2,1 triliun, volume ekspor produk perikanan yang mencapai 35.478 ton," kata Kepala BKIPM Semarang, Raden Gatot Perdana, di Semarang, Kamis (17/10).

Baca Juga

Ia mengatakan, hingga September tahun ini BKIPM Semarang telah merilis sertifikat kesehatan ikan dan produk hasil perikanan sebanyak 4.164 lembar dengan 28 negara tujuan ekspor. Adapun produk perikanan yang di ekspor sampai dengan periode tersebut meliputi 57 jenis komoditas produk perikanan dan seluruhnya telah memenuhi persyaratan dan jaminan aman dan layak konsumsi. 

"Hal ini menunjukkan pengawasan terhadap mutu dan keamanan hasil perikanan oleh BKIPM menjadikan produk perikanan memiliki daya jual yang mampu bersaing dengan negara lain," ungkapnya.

Karena, lanjut Gatot, produk perikanan yang di ekspor seluruhnya telah memiliki sertifikat HACCP, yang konsisten menerapkan  sistem Good Manufacture Practices (GMP) di unit pengolahan ikan. Hal ini diimplementasikan pada saat proses pengolahannya, sehingga produk-produk hasil perikanan tersebut sudah dapat dipastikan terjamin mutu serta keamanannya.

Lima komoditas yang menjadi unggulan teratas sesuai dengan Sistem 'Siji Data' (SIDAT) BKIPM Semarang adalah Daging Rajungan, Surimi, cumi-cumi, udang dan daging nila. "Yang paling dominan adalah komoditas daging rajungan, dengan nilai ekspor mencapai Rp 718 miliar, dengan volume ekspor mencapai 2.302 ton," jelas Gatot.

Nilai ekspor produk perikanan tertinggi masih dipegang oleh Amerika Serikat yang secara keseluruhan mencapai Rp 763 miliar. Cina juga merupakan daerah tujuan ekspor yang dalam lima besar dengan volume mencapai 11.042 ton yang disusul Jepang dengan volume ekspor 5.460 ton. 

Gatot juga menyampaikan, BKIPM Semarang juga mencatat capaian volume ekspor bulan September ini menjadi yang tertinggi sepanjang tahun 2019, dengan total mencapai 5.006 ton. Jumlah Sertifikasi Kesehatan Ikan yang diterbitkan oleh BKIPM Semarang pada bulan September ini mencapai 544 lembar.

Nilai ekspor selama  September 2019 sebesar Rp 246 miliar atau meningkat dari bulan Agustus 2019 yang  mencapai Rp 229 miliar. 

Balai KIPM Semarang sebagai otoritas kompeten dari Kementerian Kelautan dan Perikanan senantiasa mengajak semua pihak untuk mendukung ekspor perikanan. Sehingga produk Indonesia khususnya Jawa Tengah mampu berdaya saing dengan produk manca negara, dengan menerapkan sistem yang baik dalam melaksanakan jaminan mutu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement