Senin 30 Sep 2019 00:02 WIB

Mentan Sebut Jateng Daulat Pangan Berbasis Ekspor

Mentan berharap pembangunan pertanian Jateng ditiru daerah lain.

Mentan Andi Amran Sulaiman bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengikuti peringatan Hari Tani.
Foto: Kementan
Mentan Andi Amran Sulaiman bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengikuti peringatan Hari Tani.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengapresiasi capaian kinerja ekspor komoditas pertanian asal Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Mentan menilai pembangunan pertanian di Jawa Tengah tidak lagi berbicara swasembada pangan, namun telah masuk fase daulat pangan berbasis ekspor.

"Banyak komoditas menarik yang dapat diekspor. Kami sudah mengembangkan e-cert yang memudahkan bagi produk kita di negara tujuan. Tidak akan ada lagi penolakan produk di saat perjalanan," ungkap Amran dalam siaran persnya.

Menteri Amran mengatakan dirinya berharap model pembangunan pertanian yang berhasil di Jawa Tengah, dapat di duplikasi di daerah lainnya, sehingga ekspor komoditas pertanian semakin meningkat. "Ekspor kita meningkat 9 juta ton selama 5 tahun. Dan ini capaian luar biasa," tegasnya.

Amran mendapatkan penjelasan bahwa diakhir triwulan ke-3 tahun 2019, nilai barang ekspor produk pertanian yang dihasilkan petani dan peternak dari Jawa Tengah mencapai Rp 2,51 triliun atau meningkat 19,02 perse dibandingkan periode sama di tahun 2018 yang hanya mencapai Rp 2,3 triliun.

"Saya mengapresiasi petani di Jawa Tengah  karena produknya berkualitas dan laris di pasar ekspor. Berkat kerja keras Pak Gubernur, kami mendorong dengan kebijakan," kata Mentan saat lakukan inspeksi proses bisnis karantina di Depo Pelindo, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Ahad(29/9).

Menurut Amran, capaian ini merupakan bukti keberhasilan pembangunan pertanian bersama pemerintah daerah. Pada kesempatan yang sama Mentan Amran bersama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan komoditas ekspor kali ini merupakan hasil petani dan peternak di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Temanggung, Grobogan, Demak, Magelang, Semarang dan Salatiga.

Berbagai komoditas yang dilepas diantaranya kopi biji sebanyak 19,2 ton tujuan Mesir, kacang hijau volume 216 ton tujuan Cina, daun pakis sebesar 2,8 ton tujuan Jepang dan sarang burung walet sebanyak 829,1 kilogram (kg) tujuan China.

Yang menarik juga, bunga Melati dalam bentuk kuntum dan rangkaian sejumlah 6,24 ton dengan nilai barang Rp 418,5 juta. Komoditas unggulan ekspor Jateng ini berasal dari petani di Kabuputen Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang ini dikirim untuk pasar ekspor di Malaysia, Singapore dan Thailand.

"Komoditas bunga melati dari lereng Gunung Sumbing ini adalah padat karya, dan mampu memberdayakan puluhan ribu masyarakat yang ada di sana," ujar Ganjar.

Menurut Gubernur Ganjar, upaya yang dilakukan Kementan sudah tepat. Pemerintah daerah akan serius mendorong, dan berterima kasih atas kebijakan Kementan yang tepat. Pemerintah daerah melaksanakan dan membina petani, agar mampu berproduksi baik dan ekspor.

Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) yang juga mendampingi Mentan dalam acara tersebut menambahkan bahwa sertifikasi ekspor oleh Karantina Semarang hingga bulan ini mencapai Rp 6,7 triliun. Sertifikasi ekspor tersebut meliputi produk pertanian sebesar Rp 2,51 triliun dan non pertanian berupa aneka kayu asal produk kehutanan dan kelautan berupa rumput laut dan lainnya sebanyak Rp 3,2 triliun.

Jamil mengatakan kenaikan jumlah eksportir komoditas pertanian di Jawa Tengah mencapai 1.967 pelaku usaha baik perorangan maupun korporasi. Jumlah tersebut meningkat 5,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya  sebanyak 1.584 pelaku usaha. Jamil berharap, tumbuhnya eksportir baru terutama kalangan milenial dapat memacu kreatifitas dan daya tembus pada pasar baru yang semakin besar.

Selain itu, dari wilayah Jawa Tengah terjadi peningkatan frekuensi ekspor hingga 4,2 persen atau sekitar 6.719 kali hingga bulan September. Jamil mengapresiasi kerja sama pemerintah daerah yang telah dapat bekerja sama dalam meningkatkan produktifitas.

"Makin banyak yang bisa di ekspor, makin semangat dan sejahtera petani," tambahnya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement