Rabu 25 Sep 2019 13:49 WIB

ADB: Risiko Ekonomi Kawasan Asia Terus Meningkat

Pertumbuhan ekonomi 45 negara Asia pada tahun ini diproyeksi turun.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Pertumbuhan Ekonomi (ilustrasi)
Foto: Republika/Wihdan
Pertumbuhan Ekonomi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) menilai, risiko terhadap perekonomian di kawasan Asia terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut yang semula berkembang cukup kuat pun perlahan meredup. Penyebabnya, pelemahan kinerja perdagangan global maupun investasi.

Laporan ADB dalam Asian Development Outlook (ADO) 2019 Update memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 45 negara yang menjadi bagian dari kawasan Asia sedang berkembang berada di tingkat 5,4 persen pada tahun ini. Proyeksi ini menurun dibanding dengan prediksi yang disampaikan ADB pada April lalu, yaitu 5,7 persen.

Baca Juga

Dengan mengecualikan beberapa perekonomian yang baru terindustrialisasi (Newly Industrialized Countries/ NICs), kawasan Asia yang sedang berkembang diperkirakan akan tumbuh 6,0 persen pada tahun ini dan tahun depan. Negara yang termasuk NICs adalah Hong Kong, Republik Korea, Singapura, dan Taipei. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan prediksi sebelumnya, 6,2 persen.

Country Economist Indonesia ADB  Emma Allen mengatakan, perkiraan yang lebih rendah ini dikarenakan tiga faktor. Pertama, penurunan aktivitas ekonomi dan perdagan global, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

"Di sisi lain, ada eskalasi perang dagang AS dengan Cina," ujarnya dalam konferensi pers ADO 2019 Update di kantornya, Jakarta, Rabu (25/9).

Faktor ketiga yang disebutkan Allen adalah kontraksi secara tajam terhadap siklus elektronik global. Sejak beberapa waktu terakhir, perdagangan produk ini diketahui mengalami perlambatan pertumbuhan mengingat permintaan yang landai dari berbagai negara.

Allen memprediksi, pertumbuhan lebih baik akan dirasakan pada tahun depan. Negara di kawasan Asia yang sedang berkembang akan tumbuh 5,6 persen pada 2020. Pertumbuhan lebih tinggi dirasakan dengan melihat outlook tanpa NICs, yaitu hingga 6,0 persen.

Meski lebih baik dibanding dengan 2019, proyeksi tersebut sebenarnya melambat dibandingkan proyeksi ADB pada April lalu. Semula, ADB memproyeksikan 45 negara di kawasan Asia yang sedang berkembang dan tanpa NICs masing-masing dapat tumbuh 5,6 persen dan 6,1 persen pada tahun depan. 

Prospek pertumbuhan bervariasi di berbagai sub-kawasan Asia yang sedang berkembang. Penurunan tajam dalam siklus elektronik menjadi penyebab utama kemerosotan proyeksi pertumbuhan di Cina dan berbagai perekonomian yang Iebih terbuka di Asia Tenggara dan Asia Timur.

ADO Update memprakirakan, perekonomian Cina akan tumbuh 6,2 persen tahun ini dan 6,0 persen persen tahun depan. Asia Tenggara secara keseluruhan diperkirakan akan tumbuh 4,5 persen pada 2019 dan 4,7 persen pada 2020, sedangkan Asia Timur akan berekspansi hingga 5,5 persen dan 5,4 persen pada tahun-tahun tersebut.

Sementara itu, Asia Selatan secara keseluruhan diperkirakan akan tumbuh 6,2 persen dan 6,7 persen masing-masing pada tahun 2019 dan 2020.  Pertumbuhan ekonomi Asia Tengah diperkirakan akan mencapai 4,4 persen pada tahun ini dan 4,3 persen pada tahun depan. Hal ini didorong adanya stimulus pengeluaran publik di Kazakhstan dan Uzbekistan.

Sedangkan, di Pasifik, pemulihan Papua Nugini dari gempa bumi turut membantu meningkatkan pertumbuhan sub-kawasan menjadi 4,2 persen pada tahun sebelum menurun ke 2,6 persen pada tahun depan.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Pada 2018, ADB memberikan komitmen pinjaman dan hibah baru senilai 21.6 miliar dolar AS. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota-49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement