Senin 12 Aug 2019 12:29 WIB

Goldman Sachs: Perang Dagang AS-Cina Menuju Resesi

Mulai September, Pemerintah AS akan mengenakan tarif tambahan terhadap produk Cina.

Trump mengumbar sanksi ekonomi dan perang dagang.
Foto: republika
Trump mengumbar sanksi ekonomi dan perang dagang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Goldman Sachs Group Inc mengatakan pada Ahad (11/8) bahwa kekhawatiran perang dagang AS-Cina mengarah ke resesi meningkat. Karenanya Goldman tidak lagi memperkirakan kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia sebelum pemilu presiden AS 2020.

"Kami memperkirakan tarif yang menargetkan sisa 300 miliar dolar AS impor dari Cina akan berlaku," kata bank itu dalam catatan yang dikirim kepada para nasabahnya.

Baca Juga

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 1 Agustus bahwa pihaknya akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada impor Cina senilai 300 miliar dolar AS pada 1 September, mendorong Cina untuk menghentikan pembelian produk-produkpertanian AS.

Amerika Serikat juga menyatakan Cina sebagai manipulator mata uang. Cina menyangkal telah memanipulasi yuan untuk keuntungan kompetitif.

Perselisihan perdagangan selama setahun telah berkisar pada masalah-masalah seperti tarif, subsidi, teknologi, kekayaan intelektual dan keamanan siber di antara lainnya.

Goldman Sachs mengatakan, pihaknya menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen karena dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan ketegangan perdagangan.

"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang," kata bank itu dalam catatan yang ditulis oleh tiga ekonomnya, Jan Hatzius, Alec Phillips, dan David Mericle.

Meningkatnya biaya input dari gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka, kata catatan itu. "Ketidakpastian kebijakan" seperti itu juga dapat membuat perusahaan-perusahaan menurunkan belanja modal mereka, tambah para ekonom.

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement