Selasa 06 Aug 2019 18:16 WIB

Musim Kemarau, Bulog Optimistis Serap Maksimal Panen Gadu

Bulog masih melakukan penyerapan di tingkat normal, yaitu 4.000 ton per hari.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda
Pekerja mengangkat karung berisi beras kualitas premium di Gudang Bulog Sub Divisi Regional Serang, Banten, Jumat (2/8/2019).
Foto: Antara/Asep Fathulrahman
Pekerja mengangkat karung berisi beras kualitas premium di Gudang Bulog Sub Divisi Regional Serang, Banten, Jumat (2/8/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Komersial Perum Bulog Mansyur menyebutkan, pihaknya dapat melakukan penyerapan sekitar 8.000 hingga 10.000 ton per hari pada masa panen gadu bulan Agustus. Keyakinan ini disampaikan Mansyur di tengah kondisi musim kemarau yang panjang. Ia menilai, cuaca ini tidak akan mengganggu kinerja produksi dan penyerapan beras.

Secara umum, Mansyur memprediksi, jumlah stok beras di gudang Bulog sampai saat ini adalah 2,3 juta ton. Stok tersebut memiliki kualitas yang masih baik dengan sebagian besar di antaranya merupakan stok baru.

Baca Juga

"Paling lama, penyerapan dilakukan pada Oktober 2018," tuturnya ketika ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Selasa (6/8).

Sampai akhir tahun, Mansyur memperkirakan stok beras di gudang Bulog dapat mencapai 1,5 juta ton hingga 1,7 juta ton. Jumlah tersebut merupakan kalkulasi setelah dikurangi kegiatan operasi pasar hingga penugasan penyaluran beras.

Di tengah kondisi kemarau, Mansyur menjelaskan, Perum Bulog juga masih melakukan penyerapan di tingkat normal, yakni 4.000 ton per hari. Jumlah tersebut diperkirakan dapat mencapai tiga kali lipat pada saat panen raya. "Menurut catatan kita bisa sampai 12.000 ton per hari," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mnejelaskan, prediksi BMKG memperlihatkan bahwa musim kemarau akan mundur sekitar 20 hari. Artinya, musim hujan akan mulai pada Oktober.

Kondisi tersebut akan mempengaruhi musim tanam tanaman pangan dan peremajaan atau replanting kelapa sawit. Untuk tanaman pangan, Kasdi mengaku belum mendapatkan rekomendasi dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, sementara peremajaan kelapa sawit baru akan dilakukan saat memasuki musim hujan.

"Kalau mau tanam kan butuh hujan," ujar Kasdi.

Pada tahun ini, target peremajaan sawit rakyat yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) tahun ini mencapai 200 ribu hektar. Sampai saat ini, Kasdi menuturkan, pihaknya masih menunggu rekomendasi teknis dari BPDP-KS. Tapi, ia memastikan pemerintah akan mengejar target hingga akhir tahun.

Salah satu cara yang dilakukan adalah melibatkan lembaga survei. Kasdi menjelaskan, koordinasi ini dilakukan untuk mempercepat proses rekomendasi teknis dan juga replanting.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement