Rabu 03 Jul 2019 20:05 WIB

Puluhan Ribu Hektare Sawah di Jatim Terdampak Kekeringan

Jumlah lahan pertanian yang kekeringan itu kemungkinan besar akan bertambah.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Endro Yuwanto
Ilustrasi kekeringan.
Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Ilustrasi kekeringan.

REPUBLIKA.CO.ID,  SURABAYA -- Dinas Pertanian (Distan) Jawa Timur (Jatim) menyatakan, hingga akhir Juni 2019, lahan pertanian terdampak kekeringan di wilayah tersebut sebanyak 24.633 hektare. Dari luas lahan tersebut, 983 hektare gagal panen atau fuso.

Hadi menyatakan, jumlah tersebut terbilang masih sangat kecil dibanding luas lahan pertanian di Jatim yang mencapai 1,8 juta hektare. "Kalau dipersentasekan luas total keseluruhan yang kekeringan 1,32 persen, yang kena puso 0,05 persen," ujar Kepala Dinas Pertanian (Distan) Jatim Hadi Sulistyo, Rabu (3/7) .

Hadi tidak memungkiri, jumlah lahan pertanian yang kekeringan tersebut kemungkinan besar akan bertambah. Mengingat masa kemarau diperkirakan hingga September 2019. Hadi menyatakan, pihaknya telah menetapkan empat kabupaten yang berstatus sangat rawan kekeringan, yakni Bojonegoro, Lamongan, dan Pacitan. Sementara yang hanya rawan kekeringan saja adalah Kabupaten Tuban.

"Yang sangat rawan ini berarti luas lahan terdampak kekeringan mencapai seribu hektare," kata Hadi.

Data Distan Jatim, sampai Juni jumlah lahan pertanian terdampak kekeringan di Bojonegoro mencapai 11.016,8 hektare. Sedangkan di Lamongan seluas 6.806,6 hektare, dan Pacitan seluas 1.139,5 hektare. Adapun untuk Tuban yang berstatus rawan kekeringan, luas kekeringan sekitar 553,25 hektare.

Hadi mengaku telah mensosialisasikan kepada Dinas Pertanian kabupaten/kota agar mengantisipasi musim kemarau. "Langkahnya agar kabupaten/kota mempersiapkan varietas tanaman yang tahan kering. Kemudian mengoptimalkan pemanfaatan lahan basah, seperti daerah rawa atau lebak," jelas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement