Sabtu 29 Jun 2019 15:45 WIB

Gairah Ekonomi Masih Tertahan Hingga Pembentukan Kabinet

Pemenang pilpres menentukan arah kebijakan ekonomi ke depan.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Dwi Murdaningsih
Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menilai, tuntasnya proses sengketa Pemilihan Presiden di Mahkamah Konstitusi (MK) bakal membuat para pelaku ekonomi dapat lebih fokus pada isu perekonomian domestik dan global. Namun, untuk meningkatkan kembali gairah kegiatan perekonomian, pasar masih menanti hingga proses pembentukan kabinet dirampungkan.

Piter menjelaskan, rangkaian proses Pemilu 2019 dalam beberapa bulan terakhir memang cukup memberikan dampak bagi perkembangan ekonomi domestik. Sebab, para pemenang, khususnya dalam ajang Pilpres amat menentukan arah kebijakan ke depan.

Baca Juga

"Setelah keputusan MK apakah akan kembali bergairah? Masih menunggu proses pembentukan kabinet," kata Piter kepada Republika.co.id, Sabtu (29/6).

Kabinet baru dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf, lanjut Piter, akan menentukan arah kebijakan konkret bagi Indonesia selama lima tahun mendatang. Karena itu, para investor yang berencana menanamkan modalnya ke Indonesia tentu menantikan hal tersebut.

"Jadi, tidak otomatis pasca keputusan Mahkamah Konstitusi semua akan kembali bergairah," katanya menambahkan.

Selain kabinet, pola perencanaan dan strategi pembangunan pemerintahan selanjutnya bakal menentukan persepsi dunia bisnis. Tentunya, publik membutuhkan strategi pembangunan yang holistik dan mampu mensinergikan seluruh kementerian dan lembaga negara. Tanpa kerja sama yang kompak itu, kabinet sebaik apapun tidak mampu memberikan dorongan signifikan pada perekonomian.

Bank Indonesia pada Jumat (28/6) kemarin menyatakan, terdapat aliran modal asing atau capital inflow yang masuk ke Indonesia terus bertambah. Sejak 1 Januari hingga 27 Juni 2019, BI mencatat sedikitnya terdapat total Rp 154 triliun aliran modal yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan portofolio saham. Jumlah itu tercatat mengalami peningkatan dibanding posisi pada akhir Mei 2019 sebesar Rp 112,98 triliun.

Menurut Piter, adanya peningkatan aliran modal asing yang masuk bukan serta merta disebabkan keputusan MK yang menolak gugatan Prabowo-Sandi dalam siang Kamis lalu. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga modal asing yang masuk terus mengalir ke Indonesia. Tak terkecuali faktor global.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, perundingan perang dagang yang saat ini masih berlangsung amat sangat menentukan pertumbuhan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena itu, kepastian kebijakan dari sisi domestik turut membutuhkan situasi kondusif dari eksternal.

Adapun pada pertumbuhan ekonomi kuartal II (April-Juni) ini, Piter memperkirakan masih belum ada peningkatan signifikan. Pada kuartal III (Juli-September) mendatang pertumbuhan juga diperkirakan masih bakal tertahan. "Paling cepat peningkatan signifikan pada kuartal IV nanti," ujar dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement