Rabu 26 Jun 2019 07:18 WIB

Dua Bulan Diuji, Biodiesel B-100 Terbukti Lebih Hemat

Penggunaan B-100 di Kementan sudah rutin dilakukan.

Red: EH Ismail
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan produk biodiesel B-100
Foto: Humas Kementan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan produk biodiesel B-100

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Impian Indonesia ciptakan biodiesel B-100 dari CPO (Crude Palm Oil atau kelapa sawit) berhasil terwujud. Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengembangkan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100 persen Biosolar. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini telah diluncurkan pada tanggal 15 April 2019 yang lalu.

Setelah dua bulan diluncurkan dan dilakukan uji coba pemakaian terhadap mobil dinas Kementerian Pertanian secara rutin, ternyata para pengendara menyatakan bahwa dengan penggunaan B-100 ini mereka merasakan lebih hemat bahan bakar.

Unggul, salah seorang pengendara mobil dinas jenis Hiace mengungkapkan bahwa selama dua bulan menggunakan B-100, ia tidak mengalami perbedaan dengan pemakaian bahan bakar DEX. “Sama saja sih tarikannya, semua sama, cuma bedanya lebih irit” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Rabu (26/6).

Lebih lanjut dijelaskannya, dengan kondisi yang sama, kalo dulu menggunakan DEX maksmal 10 km per liter, sejak memakai B-100 dia bisa menempuh maximal 13 km per liter.

photo
Biodiesel produksi Kementan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Tito, pengendara mobil dinas yang setiap harinya menempuh jarak pulang pergi Jakarta – Serpong Gunung Sindur sejauh 96 km. “Sejak saya pakai ini jatuhnya lebih hemat. Saya cukup tiga hari sekali mengisi tangki dengan maximal 25 liter tiap pengisian’ ujarnya.

Hendra selaku penanggung jawab SPBU B-100 di Kementan menyatakan bahwa penggunaan B-100 sudah rutin dilakukan. “Dalam sehari biasanya ada pengisian sekitar 200-300 liter untuk mobil dinas” ujarnya. “Kalau sudah rutin dilakukan pengisian setiap harinya, berarti tidak ada kendala di pengendara” tambahnya. Untuk perawatan pun beberapa pengendara menyatakan bahwa sama saja dengan perawatan bahan bakar lain.

“Ya harapan saya semoga ke depan program ini bisa berkelanjutan, supaya masyarakat luas juga dapat menikmati manfaatnya”. “B-100 ini selain lebih efisien juga ramah lingkungan, jadi pasti banyak orang yang tertarik. Semoga secepatnya masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya” ujarnya.

Sebagai informasi, bahan bakar B-100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil seperti solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter.

Selain itu, penggunaan B-100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mensejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Adanya B-100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki CPO 38 juta ton, dengan nilai ekspor 34 juta ton. Bisa dibayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini merupakan energi masa depan Indonesia. Harapannya, teknologi B-100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement