Jumat 17 May 2019 10:46 WIB

Masih Terkendalikah Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia?

Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2019 sebesar 387,6 miliar dolar AS.

Utang luar negeri tahun ke tahun
Foto: republika
Utang luar negeri tahun ke tahun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia menguraikan kondisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan I 2019 ini. BI menyatakan utang luar negeri Indonesia terkendali dengan struktur yang sehat.

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS. Rinciainnya,  utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS dan utang swasta (termasuk BUMN) senilai 197,1 miliar dolar AS.

Baca Juga

"Utang luar negeri Indonesia tumbuh 7,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunuikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko.

Kenaikan ULN ini, menurut Onny, karena transaksi penarikan neto ULN dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dengan demikian, utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

Onny menjelaskan peningkatan pertumbuhan ULN terutama bersumber dari ULN sektor swasta, di tengah relatif stabilnya pertumbuhan ULN pemerintah.

Pertumbuhan ULN pemerintah relatif stabil pada triwulan I 2019. Hingga akhir triwulan I 2019, ULN pemerintah tercatat 187,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,6 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,3 persen (yoy).

Perkembangan tersebut, kata Onny, dipengaruhi oleh kenaikan arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Juga, adanya penurunan outstanding SBN dalam valuta asing sejalan dengan pelunasan global bonds yang jatuh tempo pada bulan Maret 2019. 

"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing yang tinggi terhadap prospek perekonomian Indonesia," Onny menegaskan.

Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,8 persen dari total ULN pemerintah). Disusul sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (15,7 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,4 persen).

Dari data BI, ULN swasta pada triwulan I 2019 mengalami peningkatan. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan I 2019 tumbuh 12,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3 persen (yoy).

Onny mengatakan ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA). Juga, sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,2 persen.

Struktur ULN Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan I 2019 yang relatif stabil sebesar 36,9 persen. Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN.

Dengan perkembangan tersebut, Onny meyakinkan meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan, namun masih terkendali dengan struktur yang tetap sehat. Bank Indonesia dan pemerintah, jelas dia, terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement