Jumat 26 Apr 2019 05:05 WIB

Pemerintah Bolehkan Truk Sembako Lintasi Tol Saat Mudik

Pemerintah tegaskan arus logistik pangan tidak boleh terganggu.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda
Pada H-4 setiap truk dilarang melintasi pantura. Namun, Polri masih mengizinkan truk bermuatan BBM dan sembako melintasi Pantura.
Foto: ROL/Fian Firatmaja
Pada H-4 setiap truk dilarang melintasi pantura. Namun, Polri masih mengizinkan truk bermuatan BBM dan sembako melintasi Pantura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memastikan, kendaraan besar yang mengangkut logistik pangan akan tetap diperbolehkan melewati jalan tol ketika musim mudik Lebaran. Kebijakan ini berlaku di tengah pembatasan truk untuk melalui jalan tol ketika momen mudik dengan tujuan memperlancar arus lalu lintas pemudik. 

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap, pengecualian untuk truk pembawa logistik tersebut akan memudahkan proses distribusi. Dampaknya, stok di berbagai daerah dapat terjamin dan kestabilan harga mampu tercapai. 

"Jadi, tidak ada alasan sembako jadi mahal," ujarnya ketika ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (25/4). 

Kepala Staff Kepresidenan Moeldoko menjelaskan, arus logistik pangan tidak boleh terganggu. Khususnya menjelang Lebaran, di mana distribusi pangan akan berbarengan dengan arus mudik. Seringkali, 'bentrokan' tersebut membuat proses penyaluran menjadi terhambat dan berpotensi mengganggu harga di pasaran. 

Moeldoko memastikan, truk sembako dapat melewati jalan tol yang dinilai memiliki hambatan lebih sedikit dibanding dengan jalan non tol. Pemberlakuan pembatasan juga tidak akan berlaku pada truk sembako. 

"Jangan gara-gara itu (pelarangan truk masuk ke jalan tol), harga meningkat. Ini tidak boleh," katanya. 

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, secara umum, stok pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri aman terkendali. Ini terkait stok di Bulog dan upaya peningkatan produksi yang sudah dirancang dua hingga tiga bulan sebelum memasuki Ramadhan. 

Agung mengakui, dari segi harga, memang ada kenaikan cukup signifikan terhadap sejumlah komoditas pada awal April. Yakni, bawang merah dan cabai merah. Tapi, harga tersebut terus mengalami fluktuasi dan diyakini dapat turun mengingat akan memasuki masa panen. "Puncak panennya nanti pertengahan Mei sampai Juni," ujarnya. 

Agung menjelaskan, Kementan bersama kementerian/lembaga lain akan terus menjaga kestabilan stok dan harga. Di antaranya dengan memonitor harga harian dan operasi pasar yang bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, PD Pasar Jaya dan produsen bahan pangan. 

Berbagai upaya tersebut menjadi upaya pemerintah untuk mencegah lonjakan harga yang biasa terjadi pada dua hari sebelum Ramadhan dan naik terus hingga sepekan sebelum Lebaran. Agung memprediksi, masa puncak kenaikan harga adalah dua hari jelang Lebaran. "Tahun lalu, ini bisa terjaga dan diharapkan tahun ini kembali terjaga," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement