Senin 22 Apr 2019 17:37 WIB

Blue Bird Keluarkan Rp 41 M untuk Mobil Listrik

Mulai besok taksi listrik Blue Bird meluncur di jalanan ibu kota.

Rep: Dwina Agustin/Intan Pratiwi/ Red: Indira Rezkisari
e Taxi Bluebird jenis  Silver Bird (mobil listrik Tesla)
Foto: Yogi Ardhi/Republika
e Taxi Bluebird jenis Silver Bird (mobil listrik Tesla)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Blue Bird Group menginvestasikan kurang lebih Rp 41 miliar untuk pengadaan armada bertenaga listrik serta infrastruktur yang dibutuhkan. Sebanyak 30 mobil listrik dari BYD dan Tesla, serta 11 stasiun pengisian listrik dan teknisi merupakan komponen yang dihadirkan sebagai inovasi baru.

"Ada tambahan dua atau tiga di bagian depan gedung sehingga nantinya bisa buat kendaraan pribadi dengan kapasitas 40kvh," ujar Direktur PT Blue Bird, Tbk Adrianto Djokosoetono menjelaskan penambahan stasiun pengisian listrik di depan Gedung Utama Blue Bird Group Mampang, Jakarta Selatan, Senin (22/4).

Baca Juga

Adrian menjelaskan, investasi lanjutan belum bisa diprediksi. Sebab, penghitungan rincian untuk operasional, pemeliharaan, kapasitas ruang lingkup, hingga kebutuhan kapasitas baterai belum berjalan.

Armada yang terdiri dari  BYD e6 A/T sebanyak 25 unit untuk armada Bluebird dan Tesla Model X 75D A/T sebanyak lima unit untuk Silverbird baru diuji coba pada Senin (22/4) dan baru dirilis untuk umum pada Selasa (23/4).

Dengan begitu, belum diketahui pasti akan ada tambahan berapa untuk selanjutnya. Hanya saja, Adrian menjelaskan, Blue Bird Group telah merencanakan untuk mengoperasikan 200 mobil listrik hingga tahun 2020 dan pada periode tahun 2020 hingga 2025 mencapai 2.000 unit.

Saat ini tarif kepada penumpang taksi listrik masih sama dengan tarif Blue Bird dan Silverbird armada berbahan bakar bensin. Hanya saja, armada baru bertenaga listrik akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan perjalanan dari dan menuju bandara.

"Untuk kapasitas, untuk pengisian baterai sampai penuh membutuhkan waktu 1,5 hingga dua jam dan bisa menempuh 340 hingga 400 km," kata Adrian.

Jarak tempuh tersebut, menurut Adrian, merupakan angka normal untuk armada dalam melakukan perjalanan seharian. Kondisi ini pun membuat armada bisa melakukan pengisian baterai ketika sudah ada di pool, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran kehabisan daya dalam perjalanan.

Adri menjelaskan investasi yang dilakukan perusahaan bukan untuk mencari profit. Ia menjelaskan langkah perusahaan melakukan investasi ini selain untuk melakukan riset juga untuk mendukung program mobil listrik yang dicanangkan pemerintah.

"Kami memang belum mengejar profit. Kita ini juga mengambil dana R&D  untuk kami juga bisa melakukan perincian seperti apa hitungan rincian operasionalnya, maintanance, kapasitas dan ruang lingkupnya," ujar Adri.

Ia juga menjelaskan dengan uji coba 30 unit ini ke depan Blue Bird bisa lebih tau secara detail seperti apa kebutuhan mobil listrik. Serta spesifikasi yang pas untuk kendaraan yang bersifat masal dan merupakan transportasi publik.

"Kalau spesifikasi yang feasible baru kita bisa bicara, baru kita bisa hitung berapa investasi yang akan kita gelontorkan untuk mencapai angka yang membuat dampak di jakarta khususnya untuk udara zero waste," ujar Adri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement