Senin 01 Apr 2019 17:00 WIB

Serap Hasil Panen Petani, Bulog Berlakukan Harga Fleksibel

Penerapan harga fleksibilitas ini diharapkan dapat menggenjot penyerapan beras.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Gita Amanda
Ilustrasi produksi beras di tingkat petani
Ilustrasi produksi beras di tingkat petani

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Untuk mencegah makin merosotnya harga beras dan gabah di tingkat petani, Bulog menerapkan harga fleksibilitas dalam program penyerapannya. Kepala Bulog Divre DIY, Kedu dan Banyumas, Rini Andrida berharap, dengan penerapan harga fleksibilitas ini diharapkan dapat menggenjot penyerapan beras dan gabah hasil panen petani.

''Harga fleksibilitas yang kita terapkan adalah harga HPP (Harga Pembelian Pemerintah) ditambah 10 persen. Jadi bila sesuai HPP Inpres No 5 tahun 2015, harga beras ditetapkan sebesar Rp 7.300 per kilogram (kg), maka dengan harga fleksibilitas kita beli dengan harga Rp 8.030 per kg,'' jelas Rini, saat kunjungan kerja ke Bulog Sub Divre Banyumas, Senin (1/4).

Baca Juga

Demikian juga dengan gabah, baik gabah kering panen (GKP) maupun gabah kering giling (GKG). Rini menyebutkan, untuk harga (GKP) akan dibeli seharga Rp 4.050 atau naik 10 persen dari HPP, dan GKG dibeli seharga Rp 5.060 per kg, juga naik 10 persen dari HPP.

Dengan adanya kebijakan ini, Rini menyebutkan, beberapa Bulog Sub Divre di wilayahnya saat ini sudah mulai melakukan penyerapan. Seperti di Banyumas, pada Senin (1/4), sudah mulai melakukan pembelian beras petani sebanyak 1 ton, dan gabah kering giling sebanyak tiga ton.

Kepala Bulog Sub Divre Banyumas Sony Supriyadi, mengaku dengan adanya penerapan harga fleksibilitas, maka pihaknya bisa lebih leluasa melakukan penyerapan. ''Paling tidak, kita bisa bersaing dengan harga pasar untuk melakukan penyerapan,'' jelasnya.

Sony mengaku, sejak musim panen berlangsung di wilayah Banyumas dan sekitarnya, pihaknya memang belum bisa melakukan penyerapan gabah dan beras petani. Hal ini mengingat harga beras di pasaran masih cukup tinggi.

Meski demikian dia mengakui, stok beras yang ada di gudang Bulog dari hasil penyerapan tahun lalu juga masih cukup banyak. ''Saat ini, stok beras kami di gudang Bulog masih sekitar 11 ribu ton. Semua merupakan hasil penyerapan tahun lalu,'' jelasnya.

Terkait penerapan harga fleksibilitas, Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas (APB) Fathurrahman, berharap hal itu bisa meningkatkan penyerapan Bulog terhadap hasil panen petani. ''Prinsipnya, kita berharap harga gabah dan beras di tingkat petani tidak semakin anjlok,'' katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement