Rabu 13 Feb 2019 10:06 WIB

BPPT akan Optimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Pengolahan sampah dengan teknologi thermal mampu memusnahkan sampah dengan cepat.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Gita Amanda
Seorang petugas mengecek tumpukan sampah yang akan diolah dengan fasilitas mesin pengomposan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/3).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Seorang petugas mengecek tumpukan sampah yang akan diolah dengan fasilitas mesin pengomposan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan inovasi pengolahan sampah proses thermal. Sebagai percontohan, saat ini BPPT tengah membangun Pengolahan Sampah Proses Thermal tersebut di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang.

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, nantinya pengolahan sampah thermal ini akan berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dengan kapasitas 50-100 ton per hari. Hal ini merupakan opsi nyata menuntaskan permasalahan timbunan sampah di perkotaan.

"Kami BPPT ini tentu segera menyelesaikan fasilitas ini pembangkit listrik tenaga sampah pertama di Indonesia, sebagai solusi masalah timbunan sampah di kota kota besar, khususnya DKI Jakarta ini," kata Hammam kepada Republika.co.id, Rabu (13/2).

Dia menegaskan, pengolahan sampah menggunakan teknologi thermal mampu memusnahkan sampah dalam waktu yang cepat dan signifikan. Teknologi inipun dapat memusnahkan sampah hingga kapasitas 50-100 ton per hari, dengan hasil listrik hingga 700 Kilowatt (Kw).

Untuk itu Hammam meyakini, bahwa pilot project ini dapat digunakan sebagai percontohan akan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan serta dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara tuntas. Selain itu, pembangunan PLTSa merah putih ini juga didukung oleh industri dalam negeri.

"Ini menjadi bukti BPPT mampu menghasilkan teknologi sesuai kebutuhan. Atau teknologi demand driven. Kita ingin memaksimalkan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan ini bisa kita laksanakan. Ini merupakan sebuah kebanggaan," kata dia.

Menurut dia, model PLTSa bisa menjadi rujukan untuk dibangun di tengah kota. Kendati demikian memang perlu dikaji bersama agar dihasilkan model terbaik.

"Jadi model PLTSa ke depan kalau mau dibangun di tengah kota, yang terpenting adalah bagaimana ini PLTSa dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya nanti. Hal inipun merupakan penunjang dari society 5.0," jelas Hammam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement