Rabu 06 Feb 2019 14:51 WIB

Pengusaha Truk Berharap Tarif Tol Trans-Jawa Turun 20 Persen

Tuntutan penurunan tarif Tol Trans-Jawa juga disampaikan pengusaha jasa logistik

Truk angkutan barang melintas di jalan tol. ilustrasi  (Republika/Wihdan)
Foto: Republika/ Wihdan
Truk angkutan barang melintas di jalan tol. ilustrasi (Republika/Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengharapkan tarif Jalan Tol Trans-Jawa dari Jakarta menuju Surabaya untuk truk turun sebesar 20 persen. Wakil Ketua Umum Aptrindo Nofrisel mengatakan penerapan tarif baru Tol Trans-Jawa ini berdampak signifikan terhadap biaya yang harus ditanggung pengusaha.

Menurut dia, untuk kendaraan golongan V yakni truk dengan lima gandar atau lebih, tarif tol Jakarta-Surabaya yang harus dibayar mencapai sebesar Rp 1,382 juta. "Biaya untuk jalur darat itu berkontribusi 39 persen dari total logistik. Kalau bisa menurunkan atau menaikkan tarif yang berimplikasi pada jalur darat, maka pengaruhnya akan besar sekali. Harapan kita tarif ini bisa turun sekitar 20 persen," katanya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Rabu (6/2).

Baca Juga

Nofrisel menjelaskan bahwa sebelum tarif Tol Trans-Jawa ini ditetapkan, biaya logistik untuk jalur darat hanya sekitar Rp 500 ribu. Apalagi, komponen biaya logistik melalui jalur darat berkontribusi 39 persen dari keseluruhan biaya.

Selain itu, jalur darat menjadi biaya logistik termahal kedua setelah menggunakan jasa angkutan udara, sedangkan yang lebih murah dengan kereta api dan kapal laut. Menurutnya, jika ketersediaan barang berkurang dan pasokan terbatas, maka ongkos logistik jalur darat menjadi sangat mahal.

Nofrisel mengungkapkan sebagian besar truk menggunakan jalur pantura karena selain lebih murah, juga memudahkan untuk pengiriman barang tujuan Solo, Semarang, dan Surabaya. Ia berharap tarif tol bisa ditinjau kembali dan bisa turun sekitar 20 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution pun, menurut dia, sudah menampung aspirasi para pelaku usaha. "Beliau menampung, tinggal mengakomodasi. Kami menunggu karena setelah ini ada pertemuan dengan tim kecil dari sistem logistik nasional untk membahas hal itu," kata dia.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan penerapan tarif tol ini membuat penyedia jasa logistik terbebani karena kemampuan daya beli pelanggan terbatas, sehingga tidak bisa menaikkan harga secepatnya.

Ia berharap tarif ruas jalan tol yang sudah lama dibangun, seperti Jakarta-Cikampek dan Jagorawi diturunkan hingga 50 persen untuk golongan truk. "Kami tidak bisa menaikkan harga seenaknya, karena harga jasa kepada customer sudah ada yang namanya kontrak logistik. Yang boleh mengubah harga adalah BBM yang naik, atau UMR yang naik," kata Mahendra.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement