REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mulai memperkuat pembiayaan rumah bekas (secondary market) sebagai salah satu strategi menjaga pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Langkah tersebut ditempuh di tengah melandainya permintaan rumah nonsubsidi dan kondisi likuiditas perbankan yang masih ketat.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan perseroan melihat pasar rumah bekas masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Tidak hanya pembelian rumah bekas, BTN juga mulai membidik pembiayaan renovasi rumah maupun perluasan bangunan.
"Kalau dilihat, pasar memang cenderung melandai, terutama untuk segmen nonsubsidi. Namun, kami sekarang sedang cukup agresif mencari pasar, khususnya di secondary market," ujar Nixon dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Nixon, pasar secondary market mencakup pembelian rumah bekas, renovasi rumah, hingga perluasan bangunan. Misalnya, masyarakat yang ingin membeli tanah di belakang rumah untuk memperluas bangunan atau membeli rumah di sebelahnya agar memiliki lahan yang lebih luas.
Untuk mempercepat penyaluran KPR, BTN juga mulai bekerja sama dengan platform jual beli properti digital, seperti Pinhome dan Rumah123. Melalui kerja sama tersebut, proses pengajuan kredit dipercepat sehingga pencairan pembiayaan diharapkan berlangsung lebih cepat.
"Kami akan lebih agresif bekerja sama dengan mereka. Proses bisnisnya juga kami percepat melalui service level agreement (SLA) yang lebih singkat. Jadi, kalau pengajuan dilakukan melalui Pinhome atau Rumah123, prosesnya akan lebih cepat," katanya.
Di sisi lain, Nixon mengatakan pasar rumah primer menghadapi tantangan yang berbeda di setiap daerah. Di Jawa Barat, misalnya, kendala utama berasal dari proses perizinan dan ketersediaan lahan. Sementara itu, permintaan rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar masih cenderung stagnan.
Meski kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, BTN mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,40 triliun, naik 40,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN juga tumbuh 11,2 persen menjadi Rp 418,11 triliun. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun menjadi 2,99 persen, atau untuk pertama kalinya berada di bawah 3 persen.
Nixon mengatakan transformasi yang dijalankan BTN selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang mendorong perbaikan kinerja tersebut. Selain memperkuat layanan digital, perseroan juga terus mengembangkan layanan transaksi perbankan untuk meningkatkan dana murah dan menjaga kualitas pembiayaan.