Jumat 25 Jan 2019 05:45 WIB

Ekonom: Rupiah pada 2019 Bisa di Level Rp 14.600 per Dolar

Rupiah masih dibayang-bayangi oleh defisit neraca transaksi berjalan.

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)
Foto: ANTARA
Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra memprediksi pada akhir tahun ini nilai tukar rupiah akan mencapai Rp14.600 per dolar AS. Angka itu lebih kuat dibandingkan asumsi nilai tukar dalam APBN 2019 sebesar Rp 15 ribu per dolar AS.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (24/1), Aldian menuturkan saat ini kondisi global lebih bersahabat. Karena ada perlambatan global, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, melihat kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini hanya akan dilakukan sebanyak dua kali, dari perkiraan sebelumnya tiga kali kenaikan.

"Kami juga turunkan view dari tiga kali kenaikan Fed Fund Rate tahun ini, menjadi dua kali. Jadi overall, rupiah mungkin trennya akan cukup baik. Kita lihat di first half rupiah di Rp13.800 sampai Rp14.000, di second half rupiah Rp14.600," ujar Aldian.

Ia menjelaskan alasan rupiah akan melemah di semester kedua yaitu disebabkan masih adanya risiko dari defisit neraca transaksi berjalan. Menurutnya, hal tersebut merupakan konsekuensi dari masih terjaganya momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

"Jadi karena momentum pertumbuhannya masih terjaga, jadi permintaan barang impor masih cukup baik. Dan di sisi lain, ekspor agak slow karena globalnya juga slowdown," katanya.

Baca juga, Mengapa Rupiah Begitu Perkasa?

Faktor kedua, lanjut Aldian, saat ini bank-bank sentral di dunia memang tengah menurunkan neracanya. Dampaknya likuiditas global memang cenderung akan turun.

"Jadi meski kita lihat terjadi perbaikan sentimen-sentimen terhadap aset-aset negara berkembang, kita lihat trennya masih sedikit melambat. Makanya kita perkirakan akhir tahun rupiah di Rp14.600," ujar Aldian.

Sementara itu, Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi. Saat ini suku bunga acuan BI atau BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7RRR) berada di level 6,0 persen. "Kita lihat BI mungkin masih menaikkan sekali lagi di kuartal tiga," kata Aldian.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis (24/1), mata uang rupiah tercatat menguat menjadi Rp14.141 dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.188 per dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement