Selasa 08 Jan 2019 14:19 WIB

Harga Bahan Pokok NTB Awal Tahun Masih Stabil

Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga namun masih terjangkau pembeli.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Friska Yolanda
Aktivitas jual beli di pasar tradisional
Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Aktivitas jual beli di pasar tradisional

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kepala Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Barat (NTB) Putu Selly Andayani mengatakan harga bahan pokok di NTB pada awal tahun masih terpantau stabil. Hal ini dikatakan Selly usai meninjau Pasar Kebon Roek di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, NTB, Selasa (8/1).

Selly menyampaikan tinjauan ini guna memantau ketersedian pasokan barang kebutuhan pokok pada awal 2019. Selain mengecek arus distribusi sembako lancar atau tidak, kata Selly, tinjauan ini juga memastikan agar tidak terjadi lonjakan harga bahan pokok pada awal tahun.

"Tadi terpantau harga beras, gula, minyak goreng, ikan dan daging semuanya masih stabil. Kalaupun ada komoditas yang naik, tetap harganya masih terjangkau oleh pembeli," ujar Selly.

Selly menjelaskan, harga beras jenis premium terpantau stabil dengan harga Rp 11 ribu per kg. Hal ini termasuk harga beras jenis medium yang kisarannya Rp 10 ribu per kg. Termasuk, harga daging juga masih ideal sebesar Rp 30 ribu per kg. Padahal, harga eceren terendahnya (HET) mencapai Rp 105 ribu per kg.

"Yang pasti, kalau kondisi inflasi itu, petani senang tapi masyarakat pusing. Sebaliknya, jika kondisi deflasi, maka petani menangis, sementara ibu-ibu akan senang. Jadi, kami akan intensif tetap melakukan pengawasan terkait dengan ketersedian stok sembako jangan sampai lengah," kata Selly. 

Terkait kondisi pasokan beras pada 2019. Selly menambahkan, dari hasil koordinasi dan sidaknya ke pergudangan milik Bulog NTB, terpantau stok beras bagi masyarakat NTB masih siap hingga 14 bulan kedepannya. Bahkan, menurut Selly, pihak Bulog terus melakukan operasi pasar hingga ke wilayah pelosok pasar-pasar di wilayah Kabupaten Bima sampai saat ini.

"Usai sidak ini, pengawasan dan koordinasi dengan distributor, Bulog dan Polda NTB akan terus dilakukan, sebab target kami tidak lain jangan sampai ada penimbunan barang yang dilakukan oknum dengan alasan mencari keuntungan yang lebih besar sehingga merupakan rakyat NTB," kata Selly menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement