Selasa 27 Nov 2018 17:59 WIB

Peternak Blitar Nilai Kebijakan Kementan Berdampak Positif

Peternak berharap harga telur stabil sehingga meningkatkan usaha dan taraf kehidupan

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sekitar 10 ribu ekor ayam dikonsentrasikan untuk bertelur di Desa Dadaplangu Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur.
Foto: ERDY NASRUL/REPUBLIKA
Sekitar 10 ribu ekor ayam dikonsentrasikan untuk bertelur di Desa Dadaplangu Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, BLITAR -- Peternak mengklaim kebijakan Kementerian Pertanian berdampak positif terhadap keberlangsungan peternakan unggas di Blitar. Misalnya adalah Peraturan Menteri Pertanian No 32 Tahun 2017 yang membatasi integrator (perusahaan ternak dari hulu-hilir) mengelola dua persen dari populasi ayam nasional. Sisanya diserahkan kepada peternakan rakyat.

Hal itu disampaikan Ketua Koperasi Peternak Sejahtera Blitar Jawa Timur Sukarman kepada Republika.co.id pada Selasa (27/11). Anggapan pemerintah tidak fokus mengelola kebijakan pertanian dan membingungkan para peternak, sebagaimana tertulis dalam Petisi Ragunan, terbantahkan oleh pernyataan asosiasi peternak lainnya.

“Kami berterima kasih kepada kementan, karena kami bisa tetap fokus mengurus peternakan,” imbuhnya. Petisi itu disuarakan dalam aksi demo sejumlah pihak yang mengklaim sebagai peternak di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Berharap harga stabil

Peternak ayam berharap harga telur selalu stabil, sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang lebih untuk meningkatkan usaha dan taraf kehidupan. Hal itu diwujudkan dengan sinergi peternak, pemerintah, dan para penjual untuk sama-sama menjaga kelancaran pasokan telur ke pasar.

“Hari ini harga telur sudah bagus, sekitar Rp 19 ribu hingga Rp 19.500. Ini sudah lebih baik ketimbang harga telur dua bulan lalu yang hanya Rp 15 ribu,” katanya 

Harga tersebut berada di tengah, antara batas bawah Rp 18.000 dan atas Rp 20.000. Harga tadi juga cukup untuk menutupi biaya operasional peternakan yang mayoritas dihabiskan untuk pakan berupa konsentrat, jagung, dan bekatul.

Stabilitas harga ini dipengaruhi beberapa hal. Di antaranya adalah pasokan pakan yang bagus. Jagung merupakan produk pakan yang utama. “70 persen pakan ayam petelur (layer) adalah jagung, yang dicampur dengan lainnya,” ujar Sutarman.

Sutarman menyatakan kalau untuk pakan saja sudah menghabiskan Rp 8.000 untuk menghasilkan satu kilogram telur, maka seharusnya harga telur sudah mencapai sekitar Rp 20.000. Namun, pemerintah mendorong agar harga tersebut berada di Rp 19.000-an. “Insya Allah ini sudah cukup buat kami,” imbuhnya.

Selain itu, pasokan di pasar juga harus dijaga. Jangan sampai ada pihak tak bertanggung jawab yang mengintervensi pasokan, sehingga telur dari daerah produksi, seperti Blitar, terhambat untuk masuk pasar. Hal itu kemudian mengurangi pasokan telur yang mengakibatkan harga di pasaran tiba-tiba meningkat, tapi tidak berdampak positif kepada peternak.

Sukarman menjelaskan, operasi pasar yang melibatkan berbagai instansi pemerintah harus terus digalakkan. Dengan itu, mata aparatur negara akan selalu melihat dan memastikan kelancaran distribusi telur. Peternak, pedagang, dan konsumen, sama-sama diuntungkan dengan harga yang wajar sesuai batas yang ditetapkan tadi.

Rofi Ketua PPRN (Paguyuban Peternak Rakyat Nasional) Blitar berharap pemerintah memerhatikan nasib mereka secara berkelanjutan. Tujuannya agar ciri khas Kota Blitar sebagai daerah peternakan rakyat tetap terjaga. “Atensi pemerintah dan semua pemangku kepentingan unggas dan produk turunannya adalah kunci menjaga stabilitas kearifan masyarakat di sini yang sejak dulu menjadi peternak ayam,” katanya.

Blitar dikenal sebagai daerah peternakan rakyat. Di sana ada banyak populasi unggas petelur (layer) yang Jumlahnya mencapai 19 juta ekor. Setiap hari Blitar menghasilkan 650 ton telur. Jumlah peternaknya juga banyak, mencapai 4.421 orang.

Di daerah lain, populasi ayam menyerupai jumlah unggas di Blitar, tapi angka peternak unggas bisa jadi lebih sedikit. Artinya, peternak besar dengan modal tak sedikit lebih banyak bermain.

Indonesia menghasilkan 7.600 ton telur per hari. Sebanyak 40 persen di antaranya berasal dari Jawa Timur. Paling besar berasal dari Kabupaten Blitar, tempat Sukarman, Rofi dan teman-temannya dari PPRN mengelola peternakan unggas.

Peternakan unggas di sana sudah dibangun secara masif sejak 1973 oleh pemerintah. Ketika itu ada tiga orang warga Blitar yang terlibat aktif membangun peternakan unggas: Siswoyo, Suyono, dan Masngut.

Lambat laun mereka mengajak warga sekitar untuk ikut beternak unggas. Hasilnya mereka manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan sehingga taraf kehidupan mereka kian meningkat dari tahun ke tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement