Rabu 07 Nov 2018 19:55 WIB

Pemerintah Antisipasi Hadapi Kenaikan Harga pada Akhir Tahun

Pemerintah menyiapkan stok yang cukup.

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda
Pedagang melayani pembeli, di Pasar Tanjung, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Ahad (12/8).
Foto: antara
Pedagang melayani pembeli, di Pasar Tanjung, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Ahad (12/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih memprediksi, harga komoditas pangan menjelang Natal dan tahun baru akan cenderung naik. Prediksi ini disampaikannya berdasarkan catatan dan kecenderungan menjelang hari-hari besar, di mana permintaan biasa mengalami peningkatan. 

Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sudah mengantisipasi dengan dua cara. Pertama, memastikan ketersediaan barang cukup, sehingga pasokan tidak terganggu. "Caranya, melalui koordinasi dengan dinas-dinas di seluruh Indonesia yang melaporkan posisi stok di daerah masing-masing," ujar Karyanto ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (7/11).

Selanjutnya, dari hasil koordinasi tersebut, pemerintah akan mengetahui dan memetakan daerah mana yang mengalami surplus dan defisit komoditi pangan. Dengan begitu, Karyanto menjelaskan, daerah yang komoditasnya berlebih atau surplus dapat digeser ke darah defisit. Ini dilakukan agar terjadi keseimbangan stok.

Sementara itu, Deputi Kemenko Perekonomian bidang Pangan dan Pertanian Musdalifah Mahmud  menjelaskan, pemerintah akan berupaya maksimal dalam menjaga stabilitas harga pangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Ini dilakukan agar tidak terjadi lonjakan, khususnya di hari-hari besar. 

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menyiapkan stok dalam kuantitas cukup, terutama beras sebagai bahan pangan pokok. "Ini untuk antisipasi terhadap potensi harga yang naik," tuturnya.

Musdalifah menjelaskan, tidak menutup kemungkinan akan ada operasi pasar, khususnya di daerah yang masyarakatnya dominan merayakan Natal. Beberapa produk yang memungkinkan mengalami kenaikan jelang Natal dan Tahun Baru di antaranya daging sapi, daging ayam, telur, bawang putih dan bawang merah.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, stabilitas harga barang kebutuhan pokok perlu dijaga agar laju pertumbuhan ekonomi tetap positif pada triwulan IV-2018. Menurutnya, gejolak harga beras menjadi potensi yang dapat mengganggu stabilitas harga kebutuhan pokok.

"Pada triwulan IV-2018 masih ada Natal dan Tahun Baru, itu merupakan konsumsi rumah tangga yang kuncinya ada pada stabilitas harga kebutuhan pokok dan elastisitas kesempatan kerja," kata Enny usai acara diskusi di Jakarta, Rabu (7/11).

Sisi elastisitas kesempatan kerja relatif stagnan, sehingga kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2018 akan lebih bertumpu pada stabilitas harga kebutuhan pokok. 

Baca juga, Satgas Pangan Daerah Diminta Waspada Jelang Akhir Tahun

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement