Selasa 23 Oct 2018 11:37 WIB

BI Diharapkan Tahan Suku Bunga Acuan

Kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan domestik.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolanda
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
Foto: ANTARA FOTO
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menilai, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, (23/10), seharusnya Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen. Hal itu karena depresiasi kurs rupiah relatif terkendali dalam jangka pendek. 

"Tren inflasi pun rendah. Terjadi penurunan inflasi umum dan inti pada September menjadi 2,88 persen dan 2,82 persen year on year (yoy). Sebelumnya 3,2 persen dan 2,9 persen pada Agustus," jelas Head of Research LPEM FEB UI Febrio N Kacaribu, kepada Republika.co.id, Selasa (23/10).

Lebih lanjut, kata dia, berlanjutnya defisit neraca berjalan memang masih memberikan tekanan pada rupiah dalam jangka menengah. Meski, risiko eksternal pada umumnya sudah tercermin di harga pasar saat ini. 

Menurutnya, depresiasi rupiah yang masih terjadi pada akhir September, terutama disebabkan oleh sentimen pasar akibat keputusan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 25 basis poin (bps). Hal itu lalu mendorong investor asing mengurangi kepemilikan aset Indonesia. 

"Rupiah sempat menikmati periode stabilnya pada awal september di Kisaran Rp 14.900 per dolar AS sampai Rp 15 ribu per dolar AS. Hanya saja akhir September terdepresiasi ke Kisaran Rp 15.100 per dolar AS sampai Rp 15.200 per dolar AS," tutur Febrio. 

Dirinya menambahkan, kini BI tengah bekerja untuk memperkenalkan rekening deposit khusus. Akun itu menurutnya akan dapat menjadi langkah praktis yang efektif dalam mendatangkan sebagian devisa hasil ekspor (DHE) untuk mulai mengambil keuntungan dari insentif pajak yang dapat membantu rupiah dalam jangka pendek. 

"Jadi mengingat masih berlanjutnya depresiasi rupiah dan terkikisnya cadangan devisa, mungkin dapat dimengerti BI tetap mempertimbangkan untuk kembali meningkatkan suku bunga dalam rangka menahan depresiasi. Hanya saja, BI juga harus menyadari hal tersebut bisa menekan permintaan domestik untuk barang tahan lama dan membahayakan target inflasi domestik," jelas Febrio.

Perlu diketahui, BI menggelar RDG sejak kemarin, Senin (22/10). Rencananya, hasil RDG akan diumumkan siang ini di Gedung BI, Jakarta. 

Baca juga, Pemerintah Antisipasi Prediksi Kenaikan Suku Bunga the Fed

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement