Senin 08 Oct 2018 16:08 WIB

Sri Mulyani: RI Jadi Tuan Rumah IMF-WB Bukan untuk Berutang

IMF tidak memberikan utang kepada negara yang tidak krisis.

Red: Nur Aini
Menteri Keuangan Sri Mulyani mencoba podium kepala negara saat inspeksi kesiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Ahad (7/10).
Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Menteri Keuangan Sri Mulyani mencoba podium kepala negara saat inspeksi kesiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Ahad (7/10).

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menolak tegas tudingan yang menyatakan Indonesia berniat mendapatkan utang dengan cara menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia Bank (IMF-WB) 2018.

"Tudingan itu sangat tidak mendasar, karena itulah publik perlu diberikan pemahaman yang benar. IMF itu tidak akan memberikan utang kepada negara yang tidak mengalami krisis, karena mandat IMF itu memang untuk negara yang krisis, itupun jika diminta," kata Sri Mulyani dalam siaran pers, Senin (8/10).

Menurutnya, IMF berfungsi seperti layaknya koperasi yang memberikan pinjaman sementara untuk menyelamatkan perekonomian anggotanya. Ia menegaskan bahwa saat ini Indonesia tidak dalam keadaan krisis.

"Perbankan kita terjaga dengan sehat, GDP kita masih tumbuh sekitar lima persen, defisit APBN menurun, inflasi terjaga rendah, dan moneter stabil," ujarnya.

"Kami meyakini bila fleksibilitas ekonomi bisa kita jaga, maka kita bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi global yang terjadi saat ini," kata mantan Managing Director Bank Dunia tersebut.

IMF-WB 2018 yang dilangsungkan di Nusa Dua, Bali pada 8-15 Oktober 2018 merupakan pertemuan terbesar dunia dalam bidang ekonomi. Hadir dalam pertemuan itu para pemimpin lembaga keuangan dunia, menteri-menteri yang membidangi urusan ekonomi dan moneter, serta pengusaha-pengusaha dari berbagai sektor usaha.

Indonesia menjadi negara ke-4 di Asia yang terpilih menjadi tuan rumah IMF-WB 2018, setelah Singapura, Thailand, dan Filipina. Proses pemilihan sebagai tuan rumah dimulai sejak Indonesia mengajukan proposal pada September 2014 hingga penetapan pada kuartal akhir 2015.

IMF-WB 2018 di Bali disebut-sebut sebagai yang terbesar dibandingkan kegiatan yang sama sebelumnya dari sisi jumlah peserta. Melibatkan lebih dari 30 ribu peserta yang terdiri atas 5000-an delegasi dan lebih dari 25 ribu nondelegasi dari 189 negara.

Indonesia sebagai tuan rumah mencoba menjadikan perhelatan itu untuk memberikan dampak positif sebanyak-banyaknya bagi bangsa. Dari sisi dampak langsung, Bappenas memperkirakan akan ada pemasukan lebih dari satu triliun rupiah yang berasal dari belanja para peserta.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement