Rabu 26 Sep 2018 03:14 WIB

Produksi Pesawat N219 Butuh Industri Penopang

Apalagi 60 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga wajib disediakan.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Budi Raharjo
Pesawat N219 yang diberi nama Nurtanio
Foto: REPUBLIKA/Dessy Suciati Saputri
Pesawat N219 yang diberi nama Nurtanio

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesawat buatan Indonesia N219 diperkirakan merampungkan proses sertifikasi pada pertengahan 2019. Kemudian pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) itu baru bisa memasuki tahap produksi. Namun produksinya menemui kendala bila industri pendukung penerbangan tidak berkembang.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan saat ini pesawat N219 tengah menempuh sertifikasi. Proses tersebut meliputi pengujian terbang di udara maupun pengujian pendaratan.

Pemilihan pengembangan N219 lantaran ukurannya bisa menjangkau daerah perintis. Bahkan pada tipe N219 Amfibi akan mampu mendarat di lokasi yang tak ada landasannya.

"Sebentar lagi uji terbang 340 jam terbang. Pertengahan tahun depan selesai sertifikasi. Lalu masuk produksi sesuai pesanan," katanya pada wartawan dalam sesi wawancara seminar Aero Summit 2018 pada Selasa (25/9).

Thomas mengatakan produksi N219 bergantung pada hidupnya industri penerbangan dimana ada perusahaan yang menangani masing-masing bidang. Misalnya, ada pemisahan antara perusahaan yang mengurusi komponen dan perawatan pesawat. Apalagi 60 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga wajib disediakan.

"Harus ada industrinya. Komponen 60 persen TKDN. Dengan tuntutan itu dibentuk INACOM (Indonesia Aircraft Component Manufacturer Association). Perawatan juga perlu makanya ada IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Services Association). Aeronetic Engineering Center untuk segala perancangan disana. Tujuan enggak cuma untuk N219 saja ke depannya supaya bisnis ini hidup," ujarnya.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, menilai menghidupkan industri penerbangan menjadi tantangan tersendiri bagi lembaganya. Ia mengatakan Kemenperin mendorong dibentuknya kawasan tematik kedirgantaraan seperti di Kertajadi dan Bintan. "Bintan palih siap. Disana didorong ekosistem yang berkembang," sebutnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement