Jumat 21 Sep 2018 10:03 WIB

VW Menolak untuk tak Berbisnis dengan Iran

AS memaksa perusahaan Eropa untuk mempertimbangkan kembali investasi mereka di Iran

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Volkswagen
Volkswagen

REPUBLIKA.CO.ID, WOLFSBURG -- Produsen mobil Volkswagen AG menampik kabar bahwa mereka tidak lagi melakukan bisnis di Iran setelah mendapat tekanan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jerman. Volkswagen yang berpusat di kota Wolfsburg, Jerman, memastikan posisinya di Iran tidak mengalami perubahan.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (21/9), AS memberikan sanski terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump memutuskan menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran. Sanksi tersebut telah memaksa perusahaan di Jerman dan seluruh Eropa untuk mempertimbangkan kembali investasi mereka di Iran.

Duta Besar AS untuk Jerman, Richard Greenell diketahui menjadi sosok yang menyebarkan informasi. Melalui serangkaian tweet dan wawancara selama beberapa pekan terakhir, ia mengumumkan penarikan investasi sejumlah perusahaan raksasa Jerman seperti Siemens (SIEGn.DE), BASF (BASFn.DE) dan sekarang Volkwsagen.

Pada Kamis (20/9), Bloomberg memberitakan, Greenell telah berbicara dengan manajemen Volkswagen selama beberapa pekan terakhir. Hasil dari pembicaraan tersebut adalah Volkswagen menandatangani kesepakatan dengan pemerintah AS pada Selasa (18/9) untuk membatalkan rencana pemasaran mobil di Iran. Beberapa unit usaha tetap dilanjutkan 'atas alasan kemanusiaan'.

Tapi, sumber dari perusahaan Volkswagen mengatakan, tidak ada pembicaraan dengan Grenell mengenai Iran. Juru bicara Volkswagen juga mengatakan kepada Reuters bahwa posisi perusahaan tidak mengalami perubahan dalam beberapa pekan terakhir.

Atas tanggapan Volkswagen, Juru Bicara Kedubes AS Christina Higgins menjelaskan, duta besar Amerika sudah berbicara cukup lama dengan para CEO dan pemimpin industri. "Duta besar mendesak agar mereka mematuhi sanksi Amerika," tuturnya.

Selama ini, Volkswagen tidak memiliki investasi besar di Iran meski telah mempertimbangkan membangun jaringan penjualan untuk mobil impor. Tapi, Divisi Volkswagen Spanyol mengumumkan pada tahun lalu, mereka telah membatalkann rencana untuk memasuki Iran.

Grenell diketahui kerap menimbulkan keributan sejak tiba di Jerman pada Mei. Mantan juru bicara AS di PBB tersebut segera memperingatkan perusahaan-perusahaan Jerman untuk menghentikan semua kegiatan di Iran, beberapa jam setelah mendarat. Pernyataannya pada Kamis lalu mengenai rencana Volkswagen di Iran memicu lebih banyak kritik.

Juru bicara kebijakan luar negeri untuk Free Democrat (FDP) Bijan Djir-Sarai mengatakan, pemikiran bahwa perusahaan Jerman akan membuat keputusan berdasar tekanan dari duta besar Amerika adalah hal yang konyol. "Kebijakan yang keluar dari Washington pasti memiliki dampak. Tapi, ini tidak ada hubungannya dengan duta besar," ujarnya.

Sarai juga mengingatkan kepada Grenell untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan menyampaikan informasi. Menurutnya, ekonomi Jerman dan Eropa memiliki kekuatan besar. "Kami tidak perlu menerima pesanan seolah-olah kami occupied zone," ucapnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement