Ahad 24 Jun 2018 12:20 WIB

Anomali Cuaca Ganggu Panen Garam

Panen garam di Cirebon mundur tiga hari.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini
Petani memanen garam (ilustrasi)
Foto: ANTARA
Petani memanen garam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Tambak garam milik petani di Kabupaten Cirebon dan Indramayu mulai memasuki masa panen perdana. Namun, anomali cuaca yang menyebabkan hujan sedang-lebat selama beberapa hari terakhir sempat membuat panen garam menjadi terganggu.

‘’Panen garam jadi mundur sekitar tiga hari,’’ ujar salah seorang petani garam di Kabupaten Cirebon, M Taufik, Ahad (24/6).

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jabar itu, hujan membuat tingkat salinitas (keasinan atau kadar garam terlarut air) menjadi rendah. Akibatnya, pembentukan kristalisasi garam menjadi sulit.

Namun, hujan tidak turun sepanjang hari. Saat cuaca kembali panas, maka pembentukan garam dari air laut bisa kembali berlanjut.

Taufik mengatakan, saat ini baru sedikit petani yang memulai panen garam. Dia memperkirakan, masa panen raya garam baru akan terjadi pada Agustus mendatang.

Hal senada diungkapkan seorang petani garam di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Robedi. Dia menyatakan, hujan yang turun beberapa hari terakhir membuat proses kristalisasi garam di lahan tambak jadi terhambat. ‘’Sekarang petani berusaha melakukan pengeringan dan pengolahan awal lagi,’’ kata Robedi.

Robedi menyatakan, di wilayahnya juga belum banyak petani yang memasuki masa panen. Dia memperkirakan, masa panen akan ramai mulai pertengahan Juli 2018 mendatang. ‘’Saat ini paling baru satu atau dua lahan garapan yang panen,’’ kata Robedi.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai terjadinya anomali cuaca di sejumlah daerah. Selain potensi hujan sedang-lebat yang disertai petir, anomali cuaca itu juga berpotensi menyebabkan gelombang tinggi. ‘’Kondisi itu diprediksi hingga 26 Juni mendatang,’’ ujar Forecaster BMKG Stasiun Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Izyn, Kamis (21/6) lalu.

Anomali cuaca yang menyebabkan potensi peningkatan cuaca ekstrim itu terjadi berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya di Jawa Barat, termasuk di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement