Kamis 03 May 2018 15:28 WIB

BRI Cetak Laba Bersih Rp 7,42 Triliun

Salah satu penopang utama laba adalah penyaluran kredit yang tumbuh dua digit.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Teguh Firmansyah
Bank Rakyat Indonesia
Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Bank Rakyat Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencetak laba bersih sebesar Rp 7,42 triliun pada kuartal pertama 2018. Angka itu tumbuh 11,4 persen year on year (yoy).

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan, salah satu penopang utama laba tersebut yakni penyaluran kredit yang tumbuh double digit. Pada Triwulan I 2018, secara konsolidasi BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 757,68 Triliun.

 

"Angka ini naik sebesar 11,2 persen dibandingkan periode triwulan pertama 2017 sebesar Rp 681,27 Triliun," jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (3/5).

Pencapaian tersebut, kata dia, di atas tingkat pertumbuhan kredit perbankan nasional pada Maret 2018 yang tercatat 8,5 persen. Menurutnya, BRI mampu meningkatkan portofolio pembiayaan ke segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Pasalnya, penyaluran kredit ke segmen UMKM tercatat senilai Rp 584,7 triliun atau 77,2 persen dari keseluruhan portofolio kredit BRI. Pada periode sama tahun lalu, portofolio penyaluran kredit BRI ke segmen UMKM tercatat 74,4 persen.

"Ini merupakan bukti nyata komitmen Bank BRI untuk pemberdayaan UMKM di Indonesia sehingga meningkatkan sektor riil," ujarnya.

 

BRI juga telah menyalurkan KUR senilai Rp 22,3 Triliun ke lebih dari 1,1 juta debitur sepanjang kuartal I 2018. Pencapaian itu setara 28,1 persen dari target penyaluran KUR yang di-breakdown oleh Pemerintah ke BRI di 2018 yakni sebesar Rp 79,7 Triliun.

Penyaluran kredit yang tumbuh dua digit mampu diimbangi BRI dengan tetap menjaga kualitas kredit. "Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah, NPL (Non Performing Loan) Gross BRI yang tercatat sebesar 2,46 persen. 

 

NPL BRI tercatat lebih kecil daripada NPL industri. "NPL industri perbankan di Indonesia tercatat 2,75 persen pada Maret 2018," tutur Haru.

Di sisi lain, kata dia, BRI turut meningkatkan NPL Coverage, dari semula sebesar 172,38 persen pada kuartal I 2017 menjadi 174,81 persen pada periode kuartal I 2018. "Ini mengindikasikan bahwa BRI konservatif memandang risiko yang akan datang, sekaligus untuk menjaga tingkat sustainabilitas dan profitabilitas ke depannya," katanya.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI berhasil tumbuh sebesar 12,7 persen ke posisi Rp 827,1 triliun rupiah di kuartal pertama 2018 dari posisi Rp 734 triliun di kuartal pertama 2017. Tingkat pertumbuhan tersebut jauh di atas tingkat pertumbuhan DPK nasional Maret 2018 yang tercatat sebesar 7,7 persen.

Selaras dengan peningkatan DPK, BRI mampu meningkatkan dana murah (CASA), menjadi 55,87 persen di kuartal I 2018 dari sebelumnya 55,17 persen pada periode sama tahun lalu. "Dengan kinerja cukup kuat tersebut kami optimistis mampu tumbuh secara berkelanjutan dengan tetap fokus terhadap pemberdayaan UMKM, mendorong literasi dan inklusi keuangan ke seluruh penjuru negeri serta menjalankan fungsi sebagai agent of development," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement